BAB. I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH.
Menjadi guru kreatif,
profesional dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan
dan memilih strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran yang efektif. Hal ini
penting terutama untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan
menyenangkan. Karena dalam proses belajar mengajar merupakan interaksi yang
dilakukan antara guru dan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan
tujuan yang telah di rencanakan dan ditetapkan
Setiap orang yang mengerjakan
sesuatu haruslah mengetahui dengan jelas tentang tujuan yang hendak di
capainya. Demikian juga setiap tenaga pendidik atau guru yang pekerjaan
pokoknya mendidik dan mengajar harus mengerti dengan jelas tentang tujuan
pendidikan. Pengertian akan tujuan pendidikan ini mutlak perlu sebab tujuan
itulah yang menjadi sasaran dan menjadi
pengaruh daripada tindakan-tindakanya dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Tujuan pendidikan dan
pengajaran juga berfungsi sebagai pemilihan dan penentuan alat-alat (termasuk
strategi, metode, media dan evaluasi) yang digunakan dalam mengajar.
Sesuai dengan pembahasan pada
makalah ini yaitu Strategi, media dan
evaluasi pembelajaran, salah satu yang dibicarakan adalah membedakan istilah, memilih dan mendiskripsikan
(strategi, metode, media dan evaluasi pembelajaran).
B.
RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar belakang penulisan di atas, maka dapat
diidentifikasikan masalah- masalah sebagai berikut:
1.
Apa perbedaan istilah strategi, metode dan media pembelajaran.
2.
Bagaimana memilih strategi,
metode, media dan evaluasi pembelajaran yang relevan.
3.
Bagaimana mendiskripsikan metode,
media dan alat evaluasi pembelajaran yang digunakan dalam mendesain.
BAB. II
PEMBAHASAN
STRATEGI, MEDIA DAN EVALUASI PEMBELAJARAN
A.
Perbedaan istilah Stategi, Metode dan Media Pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki
kemiripan makna sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya.
Istilah-istilah tersebut adalah strategi, metode dan media pembelajaran.
Berikut akan dipaparkan istilah-istilah tersebut dengan harapan dapat
memberikan kejelasan tentang pengunaan istilah tersebut.
a.
Strategi
Pembelajaran.
Secara umum strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar
haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Dalam dunia pendidikan strategi diartikan sebagai perencanaan yang berisi
tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu (Sanjaya, 2007:126).
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan
pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu
adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara
bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2007:126).
Gerlach dan Ely (1980) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan
cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan
pembelajaran tertentu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran
merupakan cara-cara yang akan dipilih atau digunakan oleh seorang guru untuk
menyampaikan materi pelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai
tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dikuasainya diakhir kegiatan
belajar..
Strategi pembelajaran yang akan dipilih dan digunakan oleh guru bertitik
tolak dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan di awal, artinya bahwa
arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan,
sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai
fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan.
Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur
keberhasilannya.
Strategi merupakan perpaduan secara keseluruhan dan pengorganisasian
secara kronologis dari metode-metode dan bahan –bahan yg di pilih untuk
mencapai tujuan tertentu[1]
b.
Metode Pembelajaran.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar seseorang yaitu
kemampuan guru (profesionalisme guru) dalam mengelola pembelajaran dengan
metode-metode yang tepat, yang memberi kemudahan bagi siswa untuk mempelajari
materi pelajaran, sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Menurut Nana Sudjana (2005:76) metode pembelajaran adalah cara yang
dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat
berlangsungnya pengajaran.
M. Sobri Sutikno (2009:88) menyatakan metode pembelajaran ialah cara-cara
menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses
pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan definisi pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu
cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar
pada diri siswa untuk mencapai tujuan.
c.
Media Pembelajaran.
Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “Medium”
yang secara harfiah berarti Perantara atau Pengantar yaitu perantara atau
pengantar sumber pesan (pengirim) kepada penerima pesan. Secara umum media
adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi
kepada penerima informasi.
Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi
pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977)
media adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan
atau informasi.
Istilah media disini dilihat dari segi penggunaan, serta faedah dan
fungsi khusus dalam kegiatan/proses belajar mengajar, maka yang digunakan
adalah media pembelajaran. Media pembelajaran adalah semua alat (bantu) atau
benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan maksud untuk
menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber belajar (guru maupun
sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini peserta didik ataupun warga
belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media dalam bentuk
isi/materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (peserta
didik)
Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media pembelajaran dalam hal-hal
tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika
program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan
dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.[2]
B.
Kriteria Pemilihan
Strategi, Metode, Media dan Evaluasi Pembelajaran.
a.
Pemilihan Strategi Pembelajaran.
Kriteria pemilihan strategi pembelajaran adalahsuatu dasar acuan yang
dapat digunakan dalam memilih strategi yang tepat dan dapat digunakan dalam
proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat
tercapai. Selain itu juga harus disesuaikan dengan jenis materi, karakteristik
siswa serta situasi dan kondisi lingkungan di mana proses belajar tersebut akan
berlangsung. Mager (1977) menyampaikan beberapa kriteria yang dapat digunakan
dalam pemilihan strategi pembelajaran yaitu:
1.
Berorientasi pada tujuan
pembelajaran. Gerlach dan Ely (1990) menyebutkan tidak ada satu
strategi pembelajaran yang dianggap lebih baik dibandingkan dengan strategi
pembelajaran yang lain. Baik tidaknya strategi pembelajaran bisa dilihat dari
efektif tidaknya strategi tersebut dalam mencapai tujuan pembelajaran yang
telah ditentukan.
2.
Pilih teknik atau metode
pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki
saat bekerja nanti (dihubungkan dengan dunia kerja).
3.
Gunakan media pembelajaran
yang sebanyak mungkin memberikan rangsangan pada indera peserta didik. Artinya
dalam satuan-satuan waktu yang bersama peserta didik dapat melakukan aktivitas
fisik maupun psikis, misalnya menggunakan OHP. Dalam menjelaskan suatu bagan,
lebih baik guru menggunakan OHP daripada berceramah, karena penggunaan OHP
memungkinkan peserta didik sekaligus dapat melihat dan mendengarkan penjelasan
guru.
Gerlach dan Ely (1990:173) menjelaskan pola umum pemilihan strategi
pembelajaran yang didasari pada prinsip efisiensi, efektivitas dan keterlibatan
peserta didik.
1.
Efisiensi yaitu
penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan pemilihan metode yang mendukung
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
2.
Efektivitas. Pada
dasarnya efektivitas ditujukan untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tujuan
pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Cara untuk mengukur
efektivitas ialah dengan jalan menentukan transferbilitas (kemampuan
memindahkan) prinsip-prinsip yang dipelajari.
3.
Keterlibatan peserta didik.
Pada dasarnya keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat
dipengaruhi oleh tantangan yang dapat membangkitkan motivasinya dalam
pembelajaran.strategi pembelajaran yang bersifat inquiry pada umumnya dapat
memberikan rangsangan belajar yang lebih intensif dibandingkan dengan strategi
pembelajaran yang hanya bersifat ekspositori.
Berdasarkan prinsip student centered maka peserta didik merupakan pusat
dari suatu kegiatan belajar. Dalam masyarakat belajar dikenal istilah CBSA (
Cara Belajar Siswa Aktif) yang diterjemahkan dari SAL (Student Aktive Learning)
yang maknanya adalah bahwa proses pembelajaran akan lebih berhasil apabila
peserta didik secara aktif melakukan latihan-latihan secara langsung dan
relevan dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditempatkan.
b.
Pemilihan Metode Pembelajaran.
Metode mengajar merupakan syarat mutlak yang harus disertakan dalam
proses belajar mengajar, karena metode mengajar merupakan cara/proses untuk
mencapai tujuan pengajaran yaitu tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh
siswa dalam kegiatan belajar. Setiap guru yang akan menyajikan materi pelajaran
kepada anak didiknya, perlu memahami arti, peranan serta penggunaan metode
mengajar, karena metode yang akan digunakan itu akan berpengaruh sekali
terhadap berhasil tidaknya suatu tujuan yang akan dicapai tergantung pada
penggunaan metode yang tepat.
Setiap metode mempunyai karakteristik tersendiri, oleh karena itu perlu
dipilih satu/beberapa metode yang sesuai dan bervariasi, sehingga tercapai
proses belajar mengajar yang efektif. Mengenai kriteria yang perlu
dipertimbangkan dalam pemilihan metode mengajar adalah sebagai berikut:
1. Anak Didik. Anak
didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah
gurulah yang berkewajiban untuk mendidiknya. Di ruang kelas guru akan
berhadapan dengan sejumlah anak didik dengan latar belakang kehidupan dan status sosial yang berlainan.
Dengan demikian jelas bahwa keragaman karakteristik anak didik sangat besar
pengaruhnya terhadap pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
2. Tujuan yamg hendak
dicapai. Yang dimaksud tujuan disini adalah tujuan pengajaran. Tujuan
pengajaran merupakan rumusan yang menggambarkan tentang perubahan tingkah laku
apa yang akan diperoleh siswa sebagai akibat dari pengajaran. Dalam menentukan
tujuan yang spesifik, harus diperhatikan tiga unsur yaitu meliputi aspek
kognitif, afektif dan aspek psikomotor. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam
pemilihan metode mengajar yang tepat untuk mencapai tujuan haruslah
memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan.
3. Situasi. Situasi
kegiatan belajar mengajar yang diciptakan guru tidak selamanya sama dari hari
ke hari. Pada suatu waktu boleh jadi guru ingin menciptakan situasi belajar
mengajar di alam terbuka yaitu di luar sekolah, maka dalam hal ini guru memilih
metode mengajar yang sesuai dengan situasi yang diciptakan itu.
4. Fasilitas. Fasilitas
adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap
tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar.
Ketiadaan laboratorium untuk praktek IPA, misalnya kurang mendukung pengunaan
metode eksperimen atau metode demonstrasi. Oleh karena itu, keampuhan suatu
metode mengajar akan terlihat jika faktor lain mendukungnya.
5. Guru. Dalam proses
belajar mengajar, guru mempunyai tugas mendorong, membimbing dan memberi
fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai keberhasilan pengajaran. Untuk
mencapai keberhasilan tersebut guru harus dapat menerapkan berbagai metode,
baik secara tunggal maupun bervariasi, dengan berpedoman pada tujuan yang akan
dicapai. Untuk menghasilkan metode yang efektif seorang guru harus dapat
memahami dan mengerti kebaikan dan kelemahannya. Berdasarkan kemampuan guru
dalam menggunakan dan memilih metode mengajar, dapat menunjang tercapainya
proses belajar mengajar yang efektif.
6. Materi/Bahan pelajaran.
Karakteristik bahan pelajaran meliputi mata pelajaran vokasional dan mata
pelajaran non vokasional. Dalam memilih metode mengajar haruslah melihat
karakteristik dan bahan mata pelajaran tersebut. Karena metode yang digunakan
untuk menyampaikan mata pelajaran yang bersifat vokasional akan berbeda dengan
metode yang digunakan untuk mata pelajaran yang bersifat non vokasional.[3]
c.
Pemilihan Media Pembelajaran.
Memilih media hendaknya tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan
didasarkan atas kriteria tertentu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arif S
Sadiman (1986;86) ada tiga model/pendekatan yang dapat dijadikan kriteria dalam
pemilihan media yang akan digunakan yaitu:
1. Pendekatan Flowchart.
Pendekatan ini menggunakan sistem eliminasi dalam pengambilan keputusan
pemilihan.
2. Pendekatan Matriks.
Berupa penangguhan proses pengambilan keputusan pemilihan sampai seluruh
kriteria pemilihannya di identifikasi.
3. Pendekatan Checklist,
yang menagguhkan keputusan pemilihan sampai semua kriterianya dipertimbangkan.
Menurut Prof. Drs. Hartono Kasmadi, M.Sc. bahwa dalam memilih media
pendidikan perlu dipertimbangkan adanya empat hal, yaitu:
1.
Pertimbangan Produksi, yaitu
tersedianya bahan (availability), harga (Cost), kondisi
fisik (Physical condition), mudah dicapai siswa (Accessibility to
student), nilai estetika dan motivasi (Emotional impact).
2.
Pertimbangan Peserta Didik, yaitu watak peserta didik (Student
characteristics), sesuai dengan pola pikir peserta didik (Student
relevance), keterlibatan peserta didik (Student involvement).
3.
Pertimbangan isi, yaitu sesuai dengan kurikulum (Curriculair
relevance), bahasanya jelas (Content soundness), cara menyajikan (presentation).
4.
Pertimbangan Guru, yaitu:
o
Guru harus mempertimbangkan
segi pemanfaatan media (Teacher utilization).
Sedangkan secara umum, ada beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan
dalam memilih media, yaitu:
1. Sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Media dipilih berdasarkan instruksional yang telah
ditetapkan yang secara umum mengacu kepada salah satu atau gabungan dari dua
atau tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
2. Tepat untuk mendukung isi
pelajaran yang sifatnya fakta, konsep, prinsip atau generalisasi. Agar
dapat membantu proses pembelajaran secara efektif, media harus selaras dan
sesuai dengan kebutuhan tugas pembelajaran dan kemampuan mental siswa. Televisi
misalnya, tepat untuk mempertunjukkan proses dan transformasi yang memerlukan
manipulasi ruang dan waktu.
3. Praktis, luwes dan bertahan.
Kriteria ini menuntun para guru/instruktur untuk memilih media yang ada, mudah
diperoleh, atau mudah dibuat sendiri oleh guru. Media yang dipilih sebaiknya
dapat digunakan di manapun dan kapan pun dengan peralatan yang tersedia di
sekitarnya, serta mudah dipindahkan dan dibawa ke mana-mana.
4. Guru terampil
menggunakannya. Nilai dan manfaat media amat ditentukan oleh guruyang
menggunakannya. Proyektor transparansi (OHP), slide, komputer dan peralatan
canggih lainnya tidak akan mempunyai arti apa-apa jika guru belum dapat
menggunakannya dalam proses pembelajaran sebagai upaya mempertinggi mutu dan
hasil belajar.
5. Pengelompokan sasaran.
Media yang efektif untuk kelompok besar belum tentu sama efektifnya, jika
digunakan pada kelompok kecil atau perorangan. Ada media yang tepat untuk jenis kelompok
besar, kelompok sedang, kelompok kecil dan perorangan.
6. Mutu teknis. Pengembangan
visual baik gambar maupun fotograf harus memenuhi persyaratan teknis tertentu.
Misalnya, visual pada slide harus jelas dan informasi yang ditonjolkan
/disampaikan tidak boleh terganggu.[5]
d.
Pemilihan Evaluasi Pembelajaran.
Agar dapat memperoleh hasil yang efektif penilaian hasil belajar perlu
direncanakan secara sistematis sehingga jelas abilitas yang hendak diukur,
materi, alat dan interpretasi penilaiannya.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan evaluasi hasil
belajar, yaitu:
1.
Pengambilan sampel dan pemilihan
butir soal.
2.
Tipe tes yang akan digunakan.
3.
Aspek yang akan diuji.
4.
Format butir soal.
5.
Jumlah butir soal.
6.
Distribusi tingkat kesukaran butir
soal.
Empat langkah pokok dalam pengembangan penilaian pembelajaran, yaitu:
1.
Karakteristik mata pelajaran yang
akan diujikan.
2.
Tujuan khusus pembelajaran yang
harus dicapai siswa.
3.
Tipe informasi yang dibutuhkan
dari tujuan evaluasi.
4.
Usia dan tingkat perkembangan
mental siswa yang akan mengikuti tes.
5.
Besarnya kelompok siswa yang akan
mengikuti tes.
Pemilihan yang akan dilaksanakan harus memenuhi persyaratan atau kriteria
sebagai berikut:
1.
Memiliki validitas, artinya
penilaian harus benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Suatau tes
memiliki suatu validitas, bila tes itu benar-benar mengukur hal yang hendak
dites.
2.
Mempunyai reliabilitas. Suatu alat
evaluasi memiliki reliabilitas bila menunjukkan ketepatan hasilnya.
Reliabilitas suatu tes biasanya dinyatakan dengan koefisien korelasi. Suatu
alat evaluasi yang tinggi bila reliabilitasnya menunjukkan koefisien korelasi
1,00, sedangkan tes yang reliabilitasnya rendah mempunyai koefisien korelasi
0,00.
3.
Objektivitas. Suatu alat
evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang diukur, tanpa adanya interpretasi
yang tidak ada hubungannya dengan alat evaluasi itu. Objektivitas dalam
penilaian sering diperlukan dalam menggunakan questioner, essay test,
observation, rating scale, check list dan alat-alat lainnya.
4.
Efisien. Suatu alat
evaluasi sedapat mungkin dipergunakan tanpa membuang waktu dan uang yang
banyak. Ini tidak berarti bahwa evaluasi yang memakan waktu, usaha dan uang
sedikit dianggap alat evaluasi yang baik. Hal ini tergantung pada tujuan pengunaan
alat evaluasi dan banyaknya siswa yang dinilai.
5.
Kegunaan/kepraktisan.
Ciri lain dari alat evaluasi ialah usefulness (harus berguna). Untuk memperoleh
keterangan tentang siswa, sehingga guru dapat memberikan bimbingan
sebaik-baiknya bagi para siswanya.
C.
Mendiskripsikan Metode,
Media dan Alat Evaluasi yang digunakan dalam mendesain.
a.
Metode Pembelajaran.
Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh pendidik,
maka perlu mengetahui dan mempelajari beberapa metode mengajar, serta
dipraktekkan pada saat mengajar. Beberapa metode mengajar adalah sebagai
berikut:
1. Metode Ceramah
(Preaching Method) Yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi
dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa.
2. Metode Diskusi
(Discussion method). Muhibbin Syah (2000), mendefinisikan bahwa metode diskusi
adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan memecahkan masalah
(problem solving). Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar
yang bertujuan untuk:
a)
Mendorong siswa berfikir kritis.
b)
Mendorong siswa mengekspresikan
pendapatnya secara bebas.
c)
Mendorong siswa menyumbangkan buah
fikirannya untuk memecahkan masalah.
d)
Mengambil satu alternatif
jawaban/beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan
yang seksama.
3. Metode Eksperimen. Metode
pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan/kelompok untuk dilatih
melakukan suatu proses percobaan. Pengunaan metode ini mempunyai tujuan agar
siswa mampu mencari dan menemukan sendiri, berbagai jawaban/persoalan yang
dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri untuk menemukan kebenaran dari
teori dengan cara berfikir yang ilmiah.
4. Metode Demonstrasi (Demonstration
method). Yaitu metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas
suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada
anak didik.
5. Metode Pemberian tugas.
Yaitu suatu cara dalam proses belajar mengajar bilamana guru memberi tugas
tertentu dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan
kepada guru. Dengan cara demikian diharapkan agar murid belajar secara bebas
tapi bertanggung jawab.
6. Metode Sosiodrama. Metode
sosiodrama adalah juga semacam drama atau sandiwara, akan tetapi tidak
disiapkan naskahnya terlebih dahulu. Metode ini dapat dilaksanakan dalam bidang
sejarah. Dalam bidang study agama dapat dilaksanakan dalam bidang Sejarah
Islam.
7. Metode Drill
(Latihan). Suatu metode mengajar dimana siswa diajak ke tempat latihan
keterampilan untuk melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara
mengunakannya, untuk apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya.
8. Metode Kerja Kelompok.
Suatu metode dengan cara membagi siswa dalam kelompok-kelompok untuk memecahkan
suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu pekerjaan yang perlu dikerjakan bersama-sama.
9. Metode Tanya jawab. Yaitu
salah satu teknik mengajar yang dapat membantu kekurangan-kekurangan yang
terdapat pada metode ceramah. Ini disebabkan karena guru dapat memperoleh
gambaran sejauh mana murid dapat mengerti dan dapat mengungkapkan apa yang
telah diceramahkan.
10. Metode Proyek. Metode
ini disebut juga dengan teknik pengajaran unit. Anak didik disuguhi
bermacam-macam masalah dan anak didik bersama-sama menghadapi masalah tersebut
dengan mengikuti langkah-langkah tertentu secara ilmiah, logis dan sistematis.[6]
b.
Media Pembelajaran.
Media pembelajaran dapat
dipilih bilamana memberikan dukungan terhadap isi bahan pembelajaran dan
kemudahan untuk memperolehnya. Tetapi jika media pembelajaran yang sesuai belum
tersedia, maka guru berupaya untuk mengembangkannya sendiri. Pengembangan media
pembelajaran sederhana dapat dikembangkan oleh guru sendiri. Media tersebut
meliputi media berbasis visual (gambar, chart, grafik, transparansi, dan
slide), media berbasis audiovisual
(video dan audio-tape), dan media berbasis komputer
(komputer dan video interaktif).
Media Berbasis Visual
Visualisasi
pesan, informasi, atau konsep yang ingin disampaikan kepada siswa-siswi dapat
dikembangkan dalam berbagai bentuk, seperti foto, gambar/ilustrasi,
sketsa/gambar garis, grafik, bagan, chart, dan gabungan dari dua bentuk atau
lebih. Foto menghadirkan ilustrasi melalui gambar yang hampir menyamai
kenyataan dari sesuatu objek atau situasi. Sementara itu, grafik merupakan
reprsentasi simbolis dan artistik sesuatu objek atau situasi.
Keberhasilan penggunaan
media berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektifitas bahan-bahan
visual dan grafik itu. Tampilan visual harus dapat dengan mudah dimengerti,
terang/dapat dibaca, dan dapat menarik perhatian sehingga ia mampu menyampaikan
pesan yang diinginkan oleh penggunanya.
Dalam proses penataan
elemen-elemen dalam visualisasi perlu diperhatikan prinsip-prinsip desain
tertentu (Arsyad, 2002:107) antara lain sebagai berikut.
a.
Kesederhanaan. Secara umum
kesederhanaan mengacu kepada jumlah elemen yang terkandung dalam suatu visual.
b.
Keterpaduan. Keterpaduan mengacu
kepada hubungan yang terdapat diantara elemen-elemen visual yang ketika diamati
akan berfungsi secara bersama-sama.
c.
Penekanan. Visualisasi yang
disajikan perlu penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat
perhatian siswa-siswi. Dengan menggunakan ukuran, hubungan-hubungan,
perspektif, warna, atau ruang penekanan dapat diberikan kepada unsur
terpenting.
d.
Keseimbangan. Keseimbangan yang
keseluruhannya simetris disebut keseimbangan formal dan bersifat statis.
Sebaliknya keseimbangan yang tidak keseluruhannya simetris (informal)
memberikan kesan dinamis dan dapat menarik perhatian.
e.
Bentuk. Bentuk yang aneh dan asing
bagi siswa-siswi dapat membangkitkan minat dan perhatian.
f.
Garis. Garis digunakan untuk
menghubungkan unsur-unsur sehingga dapat menuntun perhatian siswa-siswi untuk
mempelajari suatu urutanurutan khusus.
g.
Tekstur. Tekstur adalah unsur
visual yang dapat menimbulkan kesan kasar atau halus. Tekstur dapat digunakan
untuk penekanan suatu unsure seperti halnya warna.
h.
Warna. Warna merupakan unsur
visual yang penting, perlu perhatian dalam penggunannya agar diperoleh dampak
yang baik.
Media Berbasis
Audio-Visual
Media
audio dan audio-visual merupakan bentuk media pembelajaran yang murah dan
terjangkau. Disamping menarik dan memotivasi siswa untuk mempelajari materi
lebih banyak, materi audio dapat digunakan untuk keperluan berikut.
1.
Mengembangkan
keterampilan mendengar dan mengevaluasi apa yang telah didengar.
2.
Mengatur
dan mempersiapkan diskusi atau debat dengan mengungkapkan pendapat-pendapat
para ahli yang berada jauh dari lokasi.
3.
Menjadikan
model yang akan ditiru oleh siswa.
4.
Menyiapkan
variasi yang menarik dan perubahan-perubahan tingkat kecepatan belajar mengenai
suatu pokok bahasan atau sesuatu masalah.
Media Berbasis Komputer
Kemajuan teknologi
komputer pada akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat. Media
komputer sangat membantu dalam proses belajar mengajar. Penggunaan komputer
sebagai media pembelajaran dikenal dengan nama pembelajaran dengan bantuan
komputer (computer assisted instruction – CAI) atau (computer assisted learning
– CAL). Dilihat dari situasi belajar di mana komputer digunakan untuk
menyajikan isi pembelajaran, CAI dapat berbentuk tutorial, drills and practice,
simulasi, dan permainan.
- Tutorial. Program pembelajaran tutorial dengan bantuan komputer meniru sistem tutor yang dilakukan oleh guru atau instruktur.
- Latihan dan praktik (drills and practice). Latihan untuk mempermahir keterampilan atau memperkuat penguasaan konsep dapat dilakukan dengan modus drills and practice.
- Simulasi. Program simulasi dengan bantuan komputer mencoba untuk manyamai proses dinamis yang terjadi di dunia nyata.
- Permainan instruksional. Program permainan yang dirancang dengan baik dapat memotivasi siswa dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
c.
Alat Evaluasi
Pembelajaran.
Evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan
incidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara
terencana, sistematis, dan berdasarkan atas tujuan yang jelas.
Secara umum
ada empat jenis evaluasi, yaitu:
1.
Evaluasi Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil
belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan program dalam
satuan materi pokok pada suatu bidang studi tertentu.
2.
Evaluasi Sumatif, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap
hasil belajar peserta didik yang telah selesai mengikuti pembelajaran dalam
satu caturwulan semester, atau akhir tahun.
3.
Evaluasi Penempatan (Placement), yaitu penilaian
tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi
belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
4. Evaluasi Diagnostik, yaitu penilaian yang dilakukan terhadap hasil
penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik baik merupakan kesulitan
atau hambatan yang ditemui dalam proses pembelajaran.
Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam.
Wrightone dalam bukunya Evaluation in Modern Education menggolongkan
macam-macam alat evaluasi menjadi sembilan kelompok, yaitu: 1) short answer,
2) essay and oral examinations, 3) observation and anecdotal records, 4)
questionnaires, inventories and interviews, 5) checklists and rating scales, 6)
personal reports and projectives techniques, 7) sociometric methods, 8) case
studies, 9) cumulative records.
Alat-alat penilaian di atas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.
Jenis Tes, digunakan
untuk menilai kemampuan peserta didik yang mencakup aspek pengetahuan,
ketrampilan, sikap, bakat (intelegensi).
2.
Jenis Non Tes,
digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik yang mencakup aspek sikap,
minat, kepribadian peserta didik, wawancara, angket dan observasi.[7]
Penetapan
alat teknik evaluasi yang akan digunakan tergantung dari indicator yang akan dicapai.
Untuk itu teknik penilaian tergantung dari: (1) kelompok mata pelajaran, dan
(2) ranah yang akan dicapai. Yang tidak boleh ditinggalkan adalah perlunya
penggunaan prinsip-prinsip penilaian.
a.
Penilaian Hasil Belajar Masing-masing Kelompok Mata Pelajaran
1.
Penilaian
hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok
mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:
o Pengamatan terhadap perubahan perilaku
dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik, dan
o Ujian, ulangan, dan/atau penugasan
untuk mengukur aspek kognitifpeserta didik.
2.
Penilaian
hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur
melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik
materi yang dinilai.
3.
Penilaian
hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan
terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan
ekspresi psikomotorik peserta didik.
4.
Penilaian
hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga,dan kesehatan dilakukan
melalui:
o Pengamatan terhadap perubahan perilaku
dan sikap untuk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan
o
Ulangan, dan/atau penugasan
untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
b.
Ranah Penilaian
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan merupakan penjabaran dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan. Di dalamnya memuat kompetensi secara utuh yang
merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap sesuai karakteristik masing-masing
mata pelajaran.
Muatan
dari standar isi pendidikan adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Satu standar kompetensi terdiri dari beberapa kompetensi dasar, dan setiap
kompetensi dasar dijabarkan ke dalam indikator-indikator pencapaian hasil belajar
yang dirumuskan atau dikembangkan oleh guru dengan mempertimbangkan situasi dan
kondisi sekolah/daerah masingmasing. Indikator-indikator yang dikembangkan
tersebut merupakan acuan yang digunakan untuk menilai pencapaian kompetensi
dasar bersangkutan. Teknik penilaian yang digunakan harus disesuaikan dengan
karakteristik indikator, standar kompetensi dasar dan kompetensi dasar yang
diajarkan oleh guru. Tidak menutup kemungkinan bahwa satu indikator dapat
diukur dengan beberapa teknik penilaian, hal ini karena memuat domain kognitif,
psikomotor dan afektif.Ulangan, dan/atau penugasan
untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.
Penilaian satu kompetensi
dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, baik
berupa domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada tujuh teknik yang dapat
digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian
projek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
A.
Penilaian Unjuk Kerja
Penilaian unjuk kerja
merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik
dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai
ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu
seperti: praktek di laboratorium, praktek sholat, praktek olahraga, bermain
peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi dll.
Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen
berikut:
1.
Daftar Cek (Check-list)
Penilaian
unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (yatidak). Penilaian
unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai bila
kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak
dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah
penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat
diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun
daftar cek lebih praktis digunakan
mengamati subjek dalam
jumlah besar
2.
Skala Penilaian (Rating Scale)
Penilaian unjuk kerja yang
menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap
penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana
pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak
sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup
kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten.
B. Penilaian Sikap
Sikap bermula dari
perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang
dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau
pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga
terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan.
Sikap terdiri dari tiga
komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah
perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek.
Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek.
Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat
dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
Penilaian sikap dapat
dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknikteknik tersebut antara lain:
observasi perilaku, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi.
a.
Observasi Perilaku: Perilaku
seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal.
b.
Pertanyaan langsung: Kita juga dapat menanyakan secara langsung
tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal.
c.
Laporan pribadi: Melalui penggunaan teknik ini di sekolah, peserta
didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang
suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap.
C. Penilaian Tertulis
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes
tertulis. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan
kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik
tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam
bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain
sebagainya.
Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:
1. Soal dengan memilih jawaban
a. pilihan ganda
b.
dua pilihan (benar-salah,
ya-tidak)
c.
menjodohkan
2.
Soal dengan mensuplai-jawaban.
a.
isian singkat atau melengkapi
b.
uraian terbatas
c.
uraian obyektif/non obyektif
d.
uraian terstruktur/nonterstruktur
.
D. Penilaian Produk
Penilaian
produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk.
Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk
teknologi dan seni
Pengembangan produk
meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian melalui
langkah berikut.
1.
Tahap
persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan,
menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
2.
Tahap
pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam
menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.
3.
Tahap
penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan
peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan.
Penilaian
produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.
1.
Cara
holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan
pada tahap appraisal.
2.
Cara
analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap
semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.
E.
Penilaian Projek
Penilaian
projek dilakukan mulai dari perencanaan, proses pengerjaan, sampai hasil akhir
projek. Untuk itu, guru perlu menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu
dinilai, seperti penyusunan disain, pengumpulan data, analisis data, dan
penyiapkan laporan tertulis. Laporan tugas atau hasil penelitian juga dapat
disajikan dalam bentuk poster. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan
alat/instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian.
F.
Penilaian Portofolio
Penilaian
portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu
periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari
proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik.
Penilaian portofolio pada
dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk
suatu mata pelajaran. Akhir suatu priode hasil karya tersebut dikumpulkan dan
dinilai oleg guru dan peserta didik. Berdasarkan informasi perkembangan
tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan
peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat
memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya,
antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik.
BAB. III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan.
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan di atas, dapat diambil
beberapa kesimpulan, diantaranya :
1.
Perbedaan istilah Stategi, Metode dan Media Pembelajaran.
Strategi Pembelajaran merupakan
cara-cara yang akan dipilih atau digunakan oleh seorang guru untuk menyampaikan
materi pelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan dapat dikuasainya diakhir kegiatan belajar.
Metode pembelajaran merupakan suatu
cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar
pada diri siswa untuk mencapai tujuan.
Media pembelajaran adalah semua alat
(bantu) atau benda yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar, dengan
maksud untuk menyampaikan pesan (informasi) pembelajaran dari sumber belajar
(guru maupun sumber lain) kepada penerima (dalam hal ini peserta didik ataupun
warga belajar). Pesan (informasi) yang disampaikan melalui media dalam bentuk
isi/materi pengajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan (peserta
didik)
2.
Kriteria Pemilihan
Strategi, Metode, Media dan Evaluasi Pembelajaran.
a. Kriteria pemilihan strategi pembelajaran yang disampaikan oleh Mager
(1977) adalah 1) Berorientasi pada tujuan, 2) teknik atau metode pembelajaran sesuai
dengan keterampilan, 3) gunakan media pembelajaran yang dapat member rangsangan
kepada peserta didik. Sedangkan Gerlach dan Ely (1990:173) memberikan criteria
tentang pemilihan strategi pembelajaran, yaitu efisien, efektivitas,
keterlibatan peserta didik.
b.
Mengenai kriteria yang perlu dipertimbangkan
dalam pemilihan metode mengajar adalah sebagai berikut: anak didik, tujuan yang
hendak dicapai, situasi, fasilitas, guru dan materi.
c.
Arif S Sadiman (1986:86) ada
tiga model/pendekatan yang dapat dijadikan kriteria dalam pemilihan media yang
akan digunakan yaitu: pendekatan Flowchart, pendekatan Matriks, pendekatan Checklist.
Sedangkan Prof, Drs Hartono Kasmadi, M.Sc, memilih media pendidikan yang perlu
dipertimbangkan, yaitu pertimbangan produksi, pertimbangan peserta didik,
pertimbangan isi, pertimbangan guru. Secara umum criteria pemilihan media
pendidikan adalah 1) sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, 2) tepat untuk
mendukung isi pelajaran, 3) praktis, luwes dan bertahan, 4) guru terampil
menggunakannya, 5) pengelompokan sasaran, 6) mutu teknis.
d.
Pemilihan yang akan dilaksanakan harus
memenuhi persyaratan atau kriteria sebagai berikut: memiliki validitas,
mempunyai reliabilitas, objektivitas, efisien, kegunaan kepraktisan.
3.
Mendiskripsikan Metode,
Media dan Alat Evaluasi yang digunakan dalam mendesain.
a.
Agar tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan
yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu mengetahui dan mempelajari
beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar. Beberapa
metode mengajar adalah sebagai berikut: metode ceramah, metode diskusi, metode
eksperimen, metode demonstrasi, metode pemberian tugas, metode sosiodrama,
metode drill, metode kerja kelompok, metode Tanya jawab, metode proyek.
b. Pengembangan media
pembelajaran sederhana dapat dikembangkan oleh guru sendiri. Media tersebut
meliputi media berbasis visual (gambar, chart, grafik, transparansi, dan
slide), media berbasis audiovisual (video dan audio-tape), dan media berbasis
komputer (komputer dan video interaktif).
c. Secara umum ada empat jenis evaluasi, yaitu:
evaluasi formatif, evaluasi sumatif, evaluasi penempatan (placement), evaluasi diagnostik.
Untuk keperluan evaluasi
diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam. Alat-alat evaluasi ada dua jenis
yaitu jenis test dan jenis non test. Ada tujuh teknik yang dapat digunakan
untuk penilaian, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian
tertulis, penilaian projek, penilaian produk, penggunaan portofolio, dan
penilaian diri.
B.
Saran
Untuk menjadi guru yang
professional sangatlah bagus apabila guru menerapkan strategi, metode, media
dan evaluasi pembelajaran, karena bisa menciptakan suatu pembelajaran yang
kreatif dan menyenangkan.
PENUTUP
Alhamdulillah atas berkat rahmat Alloh SWT, akhirnya kami dapat
menyelesaikan tugas ini, kendatipun memakan waktu yang cukup lama. Kami
menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna, namun besar
harapan kami tugas ini dapat digunakan salah satu syarat tugas perkuliahan
yaitu mata kuliah Perencanaan dan
Desain Pembelajaran PAI.
Kami mengharap kritik dan saran dari berbagai pihak sehingga kami jadikan
acuan untuk menyusun tugas yang lebih baik dan sempurna pada masa-masa yang
akan datang.
Apabila dalam penyusunan tulisan ini terdapat kata-kata yang kurang
berkenan di hati para pengguna, pembaca tulisan ini baik dalam bentuk maupun
redaksionalnya kami mohon maaf. Oleh karena itu masukan dan saran yang
konstruktif sangat kami butuhkan demi kesempurnaan penulisan ini.
*** Semoga
Bermanfaat ***
[1] Unesco,
1981
[2] Arsyad,
Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Pers ,2009, hal 3
[3]
Djamarah, Bahri, Strategi Belajar
Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 1995, hal 89.
[4]
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta:
Rineka Cipta, 2008, hal 241.
[5] Arsyad
Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta:
Rajawali Pers, 2009, hal 75.
[6] Daradjat
Zakiyah, Metodik Khusus Pengajaran Agama
Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hal 289.
[7]
Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta:
Rineka Cipta, 2008, hal 278.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments