I. PENDAHULUAN
Ilmu
pengetahuan adalah satu hal yang bisa mengangkat harkat dan martabat manusia
dalam kehidupannya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan diperhatikan dan
diperhitungkan posisinya dalam masyarakat. Manusia akan mampu merencanakan dan
melakukan banyak hal berkat ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Sedemikian
tinggi dan berharganya kedudukan ilmu pengetahuan, sampai-sampai manusia tidak
pernah bosan dan puas dengan ilmu yang sudah ada pada dirinya, mereka semakin
berusaha untuk mencari dan menemukan ilmu-ilmu baru yang belum terungkap.
Manusia
yang dianggap sebagai makhluk yang beragama tentunya harus selalu tunduk dan
patuh terhadap doktrin dan ajaran agama yang dianutnya. Islam sebagai agama mempunyai
pandangan dan ajaran yang harus diketahui, diyakini dan dilaksanakan oleh
pemeluknya. Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya bagaimana
seharusnya mereka berbuat dan bersikap di dunia tempat tinggal mereka ini
Agama
yang sumber informasi dan ajarannya adalah wahyu Tuhan tidak dipungkiri
mempunyai kebenaran mutlak yang diyakini
pemeluknya. Sebaliknya ilmu pengetahuan -yang kebenarannya relatif- yang proses
perolehannya menggunakan akal pikiran manusia seringkali dianggap sesuatu yang
diluar ajaran agama dan tidak ada kaitannya dengan agama -Islam-. Sebagian
orang menganggap Islam hanya sebuah ajaran yang berisi perintah sholat, puasa
zakat, dan sejenisnya. Islam dianggap sama sekali tidak berbicara tentang masa
depan manusia di dunia dan bagaimana mengatur kehidupannya. Dengan kata lain,
Islam tidak menyinggung ilmu pengetahuan yang dianggap sebagai alat manusia untuk
mencari kemudahan hidup di dunia ini. Dan bahkan Islam sempat dituding sebagai
biang kerok kemunduran ilmu pengetahuan.
Pandangan
di atas memunculkan pertanyaan seputar Islam dan ilmu pengetahuan. Makna Islam
sendiri itu seperti apa, lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang ilmu
pengetahuan, sejauh mana Islam berbicara dan memberikan perhatian terhadap ilmu.
Apakah memang benar bahwa Islam hanya berisi tentang ajaran ritual keagamaan
saja dan tidak menyinggung sama sekali keilmuan.
Persoalan
selanjutnya akan berkembang bagaimana tanggung jawab seorang ilmuan, apa yang
harus dilakukannya setelah mendapatkan ilmu dan pengetahuan, mau dikemanakan
pengetahuan yang dimilikinya itu. Kalau memang Islam berbicara banyak tentang
ilmu pengetahuan, lalu bagaimana sikap umat Islam itu sendiri, bagaimana
kondisi mereka dewasa ini. Pertanyaan-pertanyaan diatas sedikit banyak
memerlukan penelusuran lebih jauh bagaimana sebenarnya sebenarnya Islam dan
ilmu pengetahuan serta keterkaitan antara keduanya.
II. PEMBAHASAN
A. Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan diartikan secara luas,
mencakup segala hal yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Pengetahuan
adalah terminologi generik yang mencakup segenap cabang pengetahuan yang kita
miliki. Manusia mendapatkan pengetahuan tersebut berdasarkan kemamuannya selaku
makhluk yang berpikir, merasa dan mengindera. Disamping
itu menusia bisa juga mendapatkan pengetahuannya lewat intuisi dan wahyu
dari Tuhan yang disampaikan lewat utusan-Nya.[1]
Ilmu
merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar
gejala alamiyah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan
memungkinkan kita untuk meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dan dengan
demikian memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut. Untuk itu
ilmu membatasi ruang jelajah kegiatannya pada daerah pengalaman manusia.
Artinya, obyek penelaahan keilmuan melipiti segenap gejala yang dapat ditangkap
oleh pengalaman manusia lewat panca inderanya.[2]
Ilmu
adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan
diinterpretasi, yang menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya
dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis, kata ilmu berarti
pengetahuan dan kejelasan, karena itu segala
yang terbentuk dari akar katanya
mempunyai ciri tahu dan jelas.
Ilmu
menurut al-Qur'an mencakup segala macam
pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun
masa depan; fisika atau metafisika. Setiap ilmu membatasi diri pada salah satu
bidang kajian. Oleh sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai
spesialis. Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan
pengetahuan.[3]
Ilmu
pengetahuan dikembangkan pada dasarnya memang untuk mencapai kebenaran atau
memperoleh pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar akan membawa manusia
memperoleh pemahaman yang benar mengenahi alam semesta, dunia sekelilingnya,
serta masyarakat lingkungannya, dan bahkan untuk lebih memahami diri sendiri.[4]
B. Al-Qur'an Sumber Ilmu Pengetahuan
Agama
dapat diibaratkan sebagai suatu gedung besar perpustakaan kebenaran. Siapa saja
dapat memasukinya melalui pintunya. Pintu dapat dilalui bila terbuka. Pintunya
terbuka bila tidak terkunci. Anak kunci pembuka pintu gedung tersebut bukanlah
sembarang, melainkan anak kunci yang sangat istimewa. Anak kunci yang istimewa
itu tiada lain ialah iman.
Agama
hanya berbicara kepada manusia yang beriman. Agama tidak berbicara apa-apa
kepada manusia yang tidak beriman. Agama hanya memberi jawaban atas pelbagai
persoalan asasi manusia kepada mereka yang beriman. Beriman berarti bahwa agama
itu tiada lain adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT. Kepada Rasul-Nya untuk
umat manusia; beriman bahwa Allah SWT. Itu Maha Ada, Maha Benar, Mutlak dan
Sempurna; beriman bahwa wahyu yang diturunkan-Nya pun nilai kebenarannya mutlak
dan sempurna.[5]
Umat
Islam meyakini bahwa agama Islam itu
adalah agama Allah yang sempurna. Al-Qur'an adalah Kitab Allah yang berisi
petunjuk dan pedoman yang lengkap untuk memimpin seluruh segi kehidupan manusia
kearah kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kita yakin bahwa al-Qur'an juga
mengandung ayat-ayat yang dapat dijadikan pedoman -meskipun hanya secara garis
besar- dalam pengembangan ilmu pengetahuan -sains- dan teknologi dalam rangka
mempertebal keimanan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.[6]
Al-Qur'an
merupakan produk iptek Allah yang diturunkan kepada manusia untuk menuntun
manusia akan jalur-jalur riset yang perlu ditempuh, sehingga manusia memperoleh
hasil yang benar. Disini fungsi al-Qur'an sebagai "hudan"
memberikan kecerahan pada akal manusia, sehingga manusia merasa lapang
dihadapan Allah Yang Maha Luas.
Oleh
sebab itu, usaha terus menerus untuk mengkaji al-Qur'an perlu dilakukan dan
bahkan hukumnya menjadi fardhu 'ain bagi setiap ilmuan yang akan meriset
terhadap alam semesta. Menciptakan
produk teknologi merupakan hasil kerja dari orang-orang yang taat kepada
tata tertib al-Qur'an. Al-Qur'an juga merupakan sumber permasalahan yang layak
diriset. Yang dimaksud disini bukan al-Qur'an itu sendiri yang diriset, namun
permasalahan riset dapat saja muncul setelah orang membaca dan mengkaji
al-Qur'an.[7]
Al-Qur'an
mensinyalir bahwa alam -semesta- baik dilangit maupun bumi, menyimpan rahasia
yang tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang berilmu
pengetahuan tentang alamlah yang dapat menyibak rahasianya. Meskipun demikian,
tidak semua rahasia alam dapat diketahui oleh manusia. Baik rahasia alam yang
sudah diketahui dan ditemukan oleh manusia, maupun yang belum diketahui dan
ditemukan, seluruhnya diketahui oleh Allah SWT. Sebab, Allah sendirilah yang menciptakan
alam.[8]
C. Totalitas Islam
Agama
Islam adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada Rasul-Nya untuk
disampaikan kepada segenap umat manusia; sepanjang masa dan setiap waktu. Islam
merupakan satu sistem keyakinan dan tata ketentuan Ilahi yang mengatur segala
pri-kehidupan dan penghidupan manusia dalam berbagai hubungan; baik hubungan
manusia dengan sesama manusia, ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya.
Islam bertujuan mendapatkan keridhaan Allah SWT., keselamatan dunia dan akhirat
serta rahmat bagi segenap alam.[9]
Sebagai sebuah tradisi religius
yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia, Islam tidak hanya
membahas apa yang wajib dan apa yang dilarang untuk dilakukan manusia, tetapi
juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah
sebuah cara berbuat dan melakukan
sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dari kedua jalan itu, aspek mengetahui
adalah yang lebih penting. Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama
pengetahuan. Islam memandang pengetahuan sebagai cara yang utama bagi
penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam
kehidupan kini dan nanti.[10]
D. Kedudukan Akal dalam Islam
Berpikir
merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan
makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam
sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses
bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan demikian
akal merupakan intinya, sebagai sifat hakiki, sedang makhluk sebagai genus yang
merupakan hakikat dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang
berakal.[11]
Islam
memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akal, karena akal hanya dimiliki
oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Allah memerintahkan
kepada manusia untuk menggunakan akalnya, dan cemooh Allah sangat buruk
terhadap manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.
Dengan
akal, manusia diminta oleh Allah untuk memperhatikan kenyataan alam empiris
ini, yang merupakan ayat-ayat Allah. Dan dengan itu, manusia akan mengakui
kekuasaan Allah dan adanya kebesaran Allah, karena Ia-lah Yang Maha Pencipta, dan
Maha Pengatur dalam proses penciptaan seluruh gejala alam ini. Dalam pengakuan terhadap
kebesaran Allah itu pulalah, manusia melatih kemampuan berpikirnya secara
sistematis, dalam mengembangkan teori-teori pembentuk ilmu pengetahuan, dari
kenyataan empiris ini.
Allah
menegaskan karunia-Nya pada manusia dengan memberikan penglihatan, pendengaran,
dan hati (QS 16:78). Ketiga sarana pribadi ini dikaruniakan Allah kepada
manusia agar manusia mempu mengembangkan ilmu pengetahuan. Tanpa, atau sebelum,
Tuhan memberikan ketiga sarana ini, manusia tidak mengetahui apa pun.
Penglihatan dan pendengaran adalah sarana observasi yang, dengan bantuan akal
mampu mengamati dan mengartikan kenyataan empiris, dan hanya dengan hatilah
proses generalisasi empiris ini akan mengarahkan manusia untuk bersyukur.
Bersyukur berarti mampu memanfaatkan sarana tersebut menurut
ketentuan-ketentuan hidup yang digariskan oleh Allah SWT.[12]
E. Islam dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu
dalam Islam berdasarkan intelek, yang mengarahkan rasio untuk membentuk ilmu
yang bertopang pada kesadaran dan keimanan terhadap kekuasaan Allah. Inilah
ilmu yang menjadi petunjuk -hidayah- dari kegelapan menuju terang -nur-.
Dan nur itu berasal dari Allah. Indera mata tanpa nur, tidak akan
dapat melihat, memperhatikan, ataupun mengukur fenomena. Bila kita menginginkan
hidup akhirat yang baik, sebagai hasil-baik kehidupan di dunia, maka tujuan
yang baik harus dicapai dengan sarana
yang baik pula. Kehidupan yang baik didunia adalah ibadah dalam arti luas.
Mencari ilmu adalah ibadah. Karena kehidupan manusia telah diatur secara garis
besar, dan manusia dianugerahi kebebasan berbuat sepanjang dan selebar aturan Allah,
maka ilmu itu pun bersumber dari Allah yang talah memberikan wahyu-Nya kepada Nabi
Muhammad untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ilmu-ilmu, menurut Islam
adalah ilmu yang didalamnya terpancar wahyu.
Kebenaran
ilmu Allah adalah mutlak. Sumber-tunggal ilmu ialah al-Qur'an -wahyu Allah-.
Dengan perkataan lain, membicarakan ilmu hanya mungkin bila bersumber pada
kitab-Nya. Kebenaran ilmu-ilmu sosial adalah relatif, kerena pada manusia
berlaku sunnatullah yang sering kali dilanggar oleh manusia sendiri, sehingga
ilmu-ilmu sosial harus mengalami pengujian dan pembuktian terus menerus, baik
oleh ahli ilmu sosial sendiri maupun
oleh para ulama' dan ulil albab. Ilmu-ilmu kealaman lebih mudah
diuji kebenarannya, karena alam sepenuhnya mematuhi sunnatullah -sami'na wa
atho'na-, sehingga ilmi-ilmu kealaman
mengalami kemajuan yang lebih pesat daripada ilmu-ilmu yang lain.
Bila
ilmu digunakan untuk kebahagiaan umat manusia, maka ilmu tidak hanya berfungsi
menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu masalah, melainkan juga
mengembangkan ilmu yang telah lalu dan yang baru, mengendalikan peristiwa yang
akan terjadi yang akan membahayakan kehidupan, dan menebak apa yang akan terjadi, untuk memudahkan umat
manusia menghadapinya.[13]
Kalau
agama mempunyai nilai kebenaran mutlak maka ilmu yang sifat kebenarannya
relatif adalah merupakan alat bagi manusia untuk mencari dan menemukan
kebenaran-kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan daya pikir dan dengan
dibimbing oleh hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam
hidupnya secara baik, yaitu beramal saleh. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan
adalah persyaratan dari amal saleh, yaitu amal yang dituntut oleh ajaran agama
terhadap pemeluknya.
Sejalan
dengan itulah Islam memandang kegunaan dan peranan ilmu, sehingga tidak membuat
garis pemisah antara agama dan ilmu. Agama adalah nilai-nilai panutan yang memberi
pedoman pada tingkah laku manusia serta pandangan hidupnya. Ilmu adalah sesuatu
hasil yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuannya sebagai
anugerah dari Tuhan Maha Pencipta. Ilmu tidak dibekalkan sebagai barang jadi,
ilmu harus dicari dan untuk ikhtiar mencarinya, Tuhan membekali manusia dengan
berbagai kemampuan yang memang sesuai kodrat dan keinginan untuk mengetahui apa
saja.[14]
Banyak
ayat al-Qur'an dan hadith Nabi yang mengajak manusia untuk berpikir, akan
tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang mampu dan mau menggunakan akalnnya
tersebut untuk berpikir. Ajaran Islam menjadikan kita menyikapi hidup ini
secara ikhtiari dan bukan fatalistik. Ajaran Islam cenderung mengajak
pada pencarian hubungan sebab-akibat secara logis, serta mampu menyibak rahasia
alam semesta melalui kajian mendalam, riset dan eksplorasi sehingga ditemukan sunnah
Allah yang merupakan bukti atas kekuasaan Tuhan. Ajaran islam juga berupaya
memadukan dua hal yang sampai saat ini masih diperlakukan secara dikotomik dalam
pendidikan Islam, yakni relasi antara Tuhan alam, Tuhan manusia, iman-ilmu,
jasmani-rohani, duniawi-ukhrowi, wahyu-akal, dimana implikasinya mengakibatkan
terpisahnya pengetahuan agama -religious sciences- dengan pengetahuan
umum -modern sciences-. Jadi, ajaran Islam menjalin hubungan yang
integralistik.[15]
F. Penggunaan Ilmu Pengetahuan
Setelah
ilmu itu kita peroleh, maka ilmu itu akan kita gunakan untuk kepentingan umat manusia.
Dengan ilmu itu, kita dapat
memisah-misahkan, membatasi, dan kemudian memilih sudut pandang yang akan kita
gunakan dalam menghadapi kejadian, peristiwa, atau perbuatan. Sesudah itu kita
dapat menempatkan masalah yang murni atau peristiwa empiris tertentu yang
saling berhubungan, dan dapat diperlakukan dengan cara yang sama, sehingga
dapat dipandang sebagai lapangan dari suatu ilmu yang berdiri sendiri.
Sebagai
Muslim, kita harus menggunakan ilmu, yang kita dapatkan dari agama Islam, sebagai
bahan untuk membuat hipotesis, dan dalam penerapannya pun kita harus
menggunakan moral Islam, guna kepentingan umat manusia, baik di dunia maupun di
akhirat. Atau dengan kata lain, metode keilmuan ini harus diislamisasikan
terlebih dahulu, sebab bagi orang non-Muslim Barat, metode demikian
menghasilkan ilmu yang sifatnya netral; walaupun kebenarannya sudah dianggap
obyektif, namun keobyektifan itu belum dapat diterima oleh Allah, karena
kebenaran hanya ditunjukkan atau telah diberitahukan dalam al-Qur'an.
Penerapan
ilmu harus berdasarkan etika -moral- Islam, agar secara ilmiah tidak berat
sebelah. Misalnya ilmu politik. Ilmu politik dan politik itu sendiri sering
dianggap kotor, dan politik yang tidak kotor adalah politik yang didasarkan
pada moralitas Islam. Di sini ternyata jelas, bahwa ilmu memerlukan basis iman,
dan iman memerlukan ilmu, keduanya pada hakekatnya harus bermuara pada amal saleh.
Ilmu ekonomi kontemporer, yakni ilmu ekonomi modern, hanya berguna bagi
kehidupan-materi saja. Karena kita menginginkan kehidupan material dan imaterial
yang sejahtera, maka ilmu ekonomi harus bersumber pada ajaran Islam, dan dalam
penerapannya tidak boleh melupakan asas iman.[16]
G. Tantangan Umat Islam
Kita
sering mendengar ungkapan dari cendikiawan muslim maupun "ulama'"
kita bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir ada diungkap di dalam
al-Quran dengan bahasa simbolik atau dengan bahasa isyarat ilmiah. Seperti
penemuan teori atom maupun teori kosmologi. Tetapi fakta berbicara bahwa yang
menemukan itu bukan kaum muslimin. Orang-orang baratlah yang menemukannya. Kaum
muslimin baru sadar bahwa prinsip ilmu itu ada dalam al-Qur'an, setelah ilmu
itu diketemukan oleh orang non-Islam. Kenyataan ini menujukkan bahwa kaum
muslimin senantiasa tertinggal dalam pekembangan iptek dan datang terlambat
menafsirkan kebenaran ilmu itu dari al-Qur'an.[17]
Upaya
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis al-Qur'an merupakan
tantangan yang cukup berat sekaligus menarik untuk ditekuni. Al-Qur'an telah
memberikan prinsip utama untuk meriset alam semesta, memberikan motivasi kepada
manusia untuk melakukan riset, memberikan kode etik teknologi dan bahkan memberikan
peluang yang sangat besar untuk melakukan loncatan teknologi. Seharusnya
pekerjaan yang demikian itu merupakan pekerjaan yang sangat menarik karena
selain dijanjikan kesuksesan di dunia juga kesuksesan diakhirat dan surgalah
sebagai balasannya.[18]
Kaum
muslimin dewasa ini hidup dalam masa yang sulit dan menantang. Berbicara secara
demografis, mereka merupakan kekuatan besar yang harus diperhitungkan. Hampir
semiliar jiwa atau seperlima dari seluruh manusia saat ini adalah muslim.
Potensi ekonomi mereka besar. Negara-negara mereka yang memiliki bagian tanah
tak dihuni luas, dianugerahi dengan sumber daya alam yang kaya. Namun demikian
pengaruh mereka terhadap urusan ekonomi dan politik dunia serta kemajuan ilmiah
dan teknologi masih marginal. Secara militer merka juga lemah. Kini mereka
masih belum memainkan peran yang signifikan dalam menentukan sejarah dunia.[19]
Realitas
saat ini memang masih menunjukkan bahwa umat Islam diberbagai negara Islam
masih jauh tertinggal dibidang iptek bila dibandingkan dengan negara-negara
lain. Saat ini umat Islam masih jauh tertinggal dengan negara-negara lain dalam
hal ilmu dan teknologi modern. Negara-negara Islam jauh tertinggal oleh Eropa
Utara, Amerika Utara, Ausrtralia dan Selandia Baru yang Protestan; Eropa Selatan
dan Amerika Selatan yang Katholik; Eropa Timur yang Katholik Ortodox; Israel yang
Yahudi; India yang Hindu; Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura yang
Budhis Konfusianis; Jepang yang Budhis Taois; Thailand yang Budhis. Praktis
disemua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah
kelompok yang paling rendah dalam penguasaan sains dan teknologi. Padahal, dari
sisi normativitas agama, baik al-Qur'an maupun hadith amat sarat dengan anjuran
untuk berilmu pengetahuan.[20]
III. PENUTUP
Islam
tidak mengenal adanya jurang pemisah anatara ilmu pengetahuan dan agama. Agama
Islam bukanlah agama yang anti dengan ilmu pengetahuan, bukan pula agama yang
menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur'an dan al-Hadith yang
merupakan dasar dari ajaran Islam penuh dengan informasi yang berkaitan dengan
pengembangan ilmu pengetahuan. Sangat tidak berdasar sekali, kalau dikatakan
Islam sebagai agama yang hanya mengajarkan ritual keagamaan belaka.
Islam
merupakan agama yang punya perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Dalam Islam,
orang-orang yang berilmu pengetahuan mendapatkan tempat yang istimewa. Islam
selalu menganjurkan dan memerintahkan kepada umatnya untuk selalu menggali dan
menemukan ilmu sebagai bekal dalam kehidupannya dalam rangka sebagai pengemban
amanah kholifah di atas bumi.
Kenyataan
bahwa Islam telah memerintahkan kepada pemeluknya untuk berilmu pengetahuan tidak
selamanya ditanggapi serius oleh umat Islam. Kenyataan mengatakan bahwa umat Islam jauh tertinggal dan terbelakang
dari umat lain dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka
telah lalai dan tidak memperhatikan ajaran agama yang mereka yakini kebenarannya.
Sehingga ilmu pengetahuan yang oleh Islam diharapkan digali dan dicari lepas
dari tangan mereka.
Ketertinggalan
dan keterbelakangan umat Islam dalam penguasaan ilmu memaksa umat Ialam untuk
selalu tunduk dan patuh kepada umat lain yang sudah lebih dulu menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi . Mereka akhirnya hanya bisa "menjual" apa yang mereka
miliki untuk mendapatkan apa yang dihasilkan dari mereka yang berilmu, walaupun
tidak mengerti benar hasil itu.
Lalu
pertanyaan akan muncul. Sampai kapan umat Islam berada dalam posisi seperti
ini, Dalam masa keterbelakangan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau
dikatakan kehidupan adalah ibarat roda yang berputar, lalu kapan roda itu akan
berputar, kapan umat Islam akan berada di atas. Bagaimanapun juga roda akan
berputar kalau ada usaha untuk menjalankannya. Umat Islam akan bisa berada diatas, mendapatkan giliran
diatas mana kala mereka punya niat dan ada usaha untuk mendapatkannya. Tuhan
tidak akan melakukan perubahan terhadap suatu umat, namun manusialah yang harus
berusaha untuk melakukan perubahan.
Wa Allah A'lam.
DAFTAR
PUSTAKA
Anshari,
Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu, 1987
Assegaf,
Abd. Rachman. Studi Islam Kontekstual, Yogyakarta:
Gama Media, 2005
Bakar Osman. Tauhid dan Sains, Bandung: Pustaka Hidayah,
1994
Fak.
Teknik UMJ Jakarta.
Al-Islam dan Iptek, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 1998
Saefuddin, AM. Desekularisasi Pemikiran,
Bandung: Penerbit
Mizan 1998
Sidik,
Muhammad Ansorudin. Pengembangan Iptek Pondok Pesantren, Jakarta: Bumi Aksara,
1995
Tim
Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM. Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 2007
[1] Jujun S.
Suriasumantri, "Mencari Alternatif Pengetahuan Baru", dalam Desekularisasi
Pemikiran, ed. A.M. Saefuddin, et.al. (Bandung: Mizan, 1998), 14.
[2] Ibid., 15.
[3] Abd. Rachman Assegaf,
Studi Islam Kontekstual (Yogyakarta: Gama
Media, 2005), 194.
[4] Sri Soeprapto,
"Metode Ilmiah" dalam Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2007), 127.
[5] Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya, Bina Ilmu, 1987), 142.
[6] Al-Islam dan Iptek,
Vol. 1 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), 17.
[7] Ibid., 19.
[8] Abd. Rachman,
Studi Islam….., 198.
[9] Endang Saifuddin,
Ilmu, Filsafat dan Agama….., 172.
[10] Osman Bakar, Tauhid
dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), 11.
[11] Noor MS. Bakry,
"Sarana Berpikir Ilmiah", dalam Desekularisasi….., 97.
[12] AM. Saefuddin,
"Filsafat Ilmu dan Metodologi Keilmuan", dalam Desekularisasi…..,
33.
[13] Ibid., 36.
[14] Abd. Rachman, Studi
Islam….., 197.
[15] Ibid., 202.
[17] Mohammad
Ansorudin Sidik, Pengembangan Wawasan Iptek Pondok Pesantren, (Jakarta:
Bumi Aksara, 1995), 17.
[18]
Al-Islam dan Iptek….. , 39.
[19] Osman. Tauhid dan
Sains….., 239.
[20] Abd. Rachman, Studi
Islam…..,205.
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments