Sabtu, 15 Desember 2012

thumbnail

ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA


 
I. PENDAHULUAN
           
            Ilmu pengetahuan adalah satu hal yang bisa mengangkat harkat dan martabat manusia dalam kehidupannya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan diperhatikan dan diperhitungkan posisinya dalam masyarakat. Manusia akan mampu merencanakan dan melakukan banyak hal berkat ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Sedemikian tinggi dan berharganya kedudukan ilmu pengetahuan, sampai-sampai manusia tidak pernah bosan dan puas dengan ilmu yang sudah ada pada dirinya, mereka semakin berusaha untuk mencari dan menemukan ilmu-ilmu baru yang belum terungkap.

            Manusia yang dianggap sebagai makhluk yang beragama tentunya harus selalu tunduk dan patuh terhadap doktrin dan ajaran agama yang dianutnya. Islam sebagai agama mempunyai pandangan dan ajaran yang harus diketahui, diyakini dan dilaksanakan oleh pemeluknya. Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya bagaimana seharusnya mereka berbuat dan bersikap di dunia tempat tinggal mereka ini

            Agama yang sumber informasi dan ajarannya adalah wahyu Tuhan tidak dipungkiri mempunyai kebenaran mutlak  yang diyakini pemeluknya. Sebaliknya ilmu pengetahuan -yang kebenarannya relatif- yang proses perolehannya menggunakan akal pikiran manusia seringkali dianggap sesuatu yang diluar ajaran agama dan tidak ada kaitannya dengan agama -Islam-. Sebagian orang menganggap Islam hanya sebuah ajaran yang berisi perintah sholat, puasa zakat, dan sejenisnya. Islam dianggap sama sekali tidak berbicara tentang masa depan manusia di dunia dan bagaimana mengatur kehidupannya. Dengan kata lain, Islam tidak menyinggung ilmu pengetahuan yang dianggap sebagai alat manusia untuk mencari kemudahan hidup di dunia ini. Dan bahkan Islam sempat dituding sebagai biang kerok kemunduran ilmu pengetahuan.

            Pandangan di atas memunculkan pertanyaan seputar Islam dan ilmu pengetahuan. Makna Islam sendiri itu seperti apa, lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang ilmu pengetahuan, sejauh mana Islam berbicara dan memberikan perhatian terhadap ilmu. Apakah memang benar bahwa Islam hanya berisi tentang ajaran ritual keagamaan saja dan tidak menyinggung sama sekali keilmuan.

            Persoalan selanjutnya akan berkembang bagaimana tanggung jawab seorang ilmuan, apa yang harus dilakukannya setelah mendapatkan ilmu dan pengetahuan, mau dikemanakan pengetahuan yang dimilikinya itu. Kalau memang Islam berbicara banyak tentang ilmu pengetahuan, lalu bagaimana sikap umat Islam itu sendiri, bagaimana kondisi mereka dewasa ini. Pertanyaan-pertanyaan diatas sedikit banyak memerlukan penelusuran lebih jauh bagaimana sebenarnya sebenarnya Islam dan ilmu pengetahuan serta keterkaitan antara keduanya.













II. PEMBAHASAN

A. Ilmu Pengetahuan
           
Pengetahuan diartikan secara luas, mencakup segala hal yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Pengetahuan adalah terminologi generik yang mencakup segenap cabang pengetahuan yang kita miliki. Manusia mendapatkan pengetahuan tersebut berdasarkan kemamuannya selaku makhluk yang berpikir, merasa dan mengindera. Disamping itu menusia bisa juga mendapatkan pengetahuannya lewat intuisi dan wahyu dari Tuhan yang disampaikan lewat utusan-Nya.[1]

            Ilmu merupakan suatu pengetahuan yang mencoba menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiyah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Penjelasan ini akan memungkinkan kita untuk meramalkan sesuatu yang akan terjadi, dan dengan demikian memungkinkan kita untuk mengontrol gejala tersebut. Untuk itu ilmu membatasi ruang jelajah kegiatannya pada daerah pengalaman manusia. Artinya, obyek penelaahan keilmuan melipiti segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat panca inderanya.[2]

            Ilmu adalah pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasi, yang menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Secara etimologis, kata ilmu berarti pengetahuan dan kejelasan, karena itu segala  yang terbentuk  dari akar katanya mempunyai ciri tahu dan jelas.

            Ilmu menurut al-Qur'an mencakup segala  macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika. Setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Oleh sebab itu seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis. Dari sudut pandang filsafat, ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.[3]

            Ilmu pengetahuan dikembangkan pada dasarnya memang untuk mencapai kebenaran atau memperoleh pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar akan membawa manusia memperoleh pemahaman yang benar mengenahi alam semesta, dunia sekelilingnya, serta masyarakat lingkungannya, dan bahkan untuk lebih memahami diri sendiri.[4]  

B. Al-Qur'an Sumber Ilmu Pengetahuan

            Agama dapat diibaratkan sebagai suatu gedung besar perpustakaan kebenaran. Siapa saja dapat memasukinya melalui pintunya. Pintu dapat dilalui bila terbuka. Pintunya terbuka bila tidak terkunci. Anak kunci pembuka pintu gedung tersebut bukanlah sembarang, melainkan anak kunci yang sangat istimewa. Anak kunci yang istimewa itu tiada lain ialah iman.

            Agama hanya berbicara kepada manusia yang beriman. Agama tidak berbicara apa-apa kepada manusia yang tidak beriman. Agama hanya memberi jawaban atas pelbagai persoalan asasi manusia kepada mereka yang beriman. Beriman berarti bahwa agama itu tiada lain adalah wahyu yang diturunkan Allah SWT. Kepada Rasul-Nya untuk umat manusia; beriman bahwa Allah SWT. Itu Maha Ada, Maha Benar, Mutlak dan Sempurna; beriman bahwa wahyu yang diturunkan-Nya pun nilai kebenarannya mutlak dan sempurna.[5]

            Umat Islam meyakini bahwa  agama Islam itu adalah agama Allah yang sempurna. Al-Qur'an adalah Kitab Allah yang berisi petunjuk dan pedoman yang lengkap untuk memimpin seluruh segi kehidupan manusia kearah kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kita yakin bahwa al-Qur'an juga mengandung ayat-ayat yang dapat dijadikan pedoman -meskipun hanya secara garis besar- dalam pengembangan ilmu pengetahuan -sains- dan teknologi dalam rangka mempertebal keimanan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.[6]

            Al-Qur'an merupakan produk iptek Allah yang diturunkan kepada manusia untuk menuntun manusia akan jalur-jalur riset yang perlu ditempuh, sehingga manusia memperoleh hasil yang benar. Disini fungsi al-Qur'an sebagai "hudan" memberikan kecerahan pada akal manusia, sehingga manusia merasa lapang dihadapan Allah Yang Maha Luas.

            Oleh sebab itu, usaha terus menerus untuk mengkaji al-Qur'an perlu dilakukan dan bahkan hukumnya menjadi fardhu 'ain bagi setiap ilmuan yang akan meriset terhadap alam semesta. Menciptakan  produk teknologi merupakan hasil kerja dari orang-orang yang taat kepada tata tertib al-Qur'an. Al-Qur'an juga merupakan sumber permasalahan yang layak diriset. Yang dimaksud disini bukan al-Qur'an itu sendiri yang diriset, namun permasalahan riset dapat saja muncul setelah orang membaca dan mengkaji al-Qur'an.[7]

            Al-Qur'an mensinyalir bahwa alam -semesta- baik dilangit maupun bumi, menyimpan rahasia yang tidak semua orang mengetahuinya. Hanya orang-orang yang berilmu pengetahuan tentang alamlah yang dapat menyibak rahasianya. Meskipun demikian, tidak semua rahasia alam dapat diketahui oleh manusia. Baik rahasia alam yang sudah diketahui dan ditemukan oleh manusia, maupun yang belum diketahui dan ditemukan, seluruhnya diketahui oleh Allah SWT. Sebab, Allah sendirilah yang menciptakan alam.[8]



C. Totalitas Islam

            Agama Islam adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap umat manusia; sepanjang masa dan setiap waktu. Islam merupakan satu sistem keyakinan dan tata ketentuan Ilahi yang mengatur segala pri-kehidupan dan penghidupan manusia dalam berbagai hubungan; baik hubungan manusia dengan sesama manusia, ataupun hubungan manusia dengan alam lainnya. Islam bertujuan mendapatkan keridhaan Allah SWT., keselamatan dunia dan akhirat serta rahmat bagi segenap alam.[9]

Sebagai sebuah tradisi religius yang utuh, yang mencakup semua aspek kehidupan manusia, Islam tidak hanya membahas apa yang wajib dan apa yang dilarang untuk dilakukan manusia, tetapi juga membahas apa yang perlu diketahuinya. Dengan kata lain, Islam adalah sebuah cara  berbuat dan melakukan sesuatu sekaligus sebuah cara untuk mengetahui. Dari kedua jalan itu, aspek mengetahui adalah yang lebih penting. Hal ini karena secara esensial Islam adalah agama pengetahuan. Islam memandang pengetahuan sebagai cara yang utama bagi penyelamatan jiwa dan pencapaian kebahagiaan serta kesejahteraan manusia dalam kehidupan kini dan nanti.[10]

D. Kedudukan Akal dalam Islam

            Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia, untuk membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Berpikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal, manusia dapat berpikir karena manusia berakal. Dengan demikian akal merupakan intinya, sebagai sifat hakiki, sedang makhluk sebagai genus yang merupakan hakikat dhat, sehingga manusia dapat dijelaskan sebagai makhluk yang berakal.[11]

            Islam memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada akal, karena akal hanya dimiliki oleh manusia, dan manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Allah memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya, dan cemooh Allah sangat buruk terhadap manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.

            Dengan akal, manusia diminta oleh Allah untuk memperhatikan kenyataan alam empiris ini, yang merupakan ayat-ayat Allah. Dan dengan itu, manusia akan mengakui kekuasaan Allah dan adanya kebesaran Allah, karena Ia-lah Yang Maha Pencipta, dan Maha Pengatur dalam proses penciptaan seluruh gejala alam ini. Dalam pengakuan terhadap kebesaran Allah itu pulalah, manusia melatih kemampuan berpikirnya secara sistematis, dalam mengembangkan teori-teori pembentuk ilmu pengetahuan, dari kenyataan empiris ini.

            Allah menegaskan karunia-Nya pada manusia dengan memberikan penglihatan, pendengaran, dan hati (QS 16:78). Ketiga sarana pribadi ini dikaruniakan Allah kepada manusia agar manusia mempu mengembangkan ilmu pengetahuan. Tanpa, atau sebelum, Tuhan memberikan ketiga sarana ini, manusia tidak mengetahui apa pun. Penglihatan dan pendengaran adalah sarana observasi yang, dengan bantuan akal mampu mengamati dan mengartikan kenyataan empiris, dan hanya dengan hatilah proses generalisasi empiris ini akan mengarahkan manusia untuk bersyukur. Bersyukur berarti mampu memanfaatkan sarana tersebut menurut ketentuan-ketentuan hidup yang digariskan oleh Allah SWT.[12]



E. Islam dan Ilmu Pengetahuan

            Ilmu dalam Islam berdasarkan intelek, yang mengarahkan rasio untuk membentuk ilmu yang bertopang pada kesadaran dan keimanan terhadap kekuasaan Allah. Inilah ilmu yang menjadi petunjuk -hidayah- dari kegelapan menuju terang -nur-. Dan nur itu berasal dari Allah. Indera mata tanpa nur, tidak akan dapat melihat, memperhatikan, ataupun mengukur fenomena. Bila kita menginginkan hidup akhirat yang baik, sebagai hasil-baik kehidupan di dunia, maka tujuan yang baik  harus dicapai dengan sarana yang baik pula. Kehidupan yang baik didunia adalah ibadah dalam arti luas. Mencari ilmu adalah ibadah. Karena kehidupan manusia telah diatur secara garis besar, dan manusia dianugerahi kebebasan berbuat sepanjang dan selebar aturan Allah, maka ilmu itu pun bersumber dari Allah yang talah memberikan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, ilmu-ilmu, menurut Islam adalah ilmu yang didalamnya terpancar wahyu.

            Kebenaran ilmu Allah adalah mutlak. Sumber-tunggal ilmu ialah al-Qur'an -wahyu Allah-. Dengan perkataan lain, membicarakan ilmu hanya mungkin bila bersumber pada kitab-Nya. Kebenaran ilmu-ilmu sosial adalah relatif, kerena pada manusia berlaku sunnatullah yang sering kali dilanggar oleh manusia sendiri, sehingga ilmu-ilmu sosial harus mengalami pengujian dan pembuktian terus menerus, baik oleh ahli ilmu sosial sendiri maupun  oleh para ulama' dan ulil albab. Ilmu-ilmu kealaman lebih mudah diuji kebenarannya, karena alam sepenuhnya mematuhi sunnatullah -sami'na wa atho'na-, sehingga ilmi-ilmu kealaman  mengalami kemajuan yang lebih pesat daripada ilmu-ilmu yang lain.

            Bila ilmu digunakan untuk kebahagiaan umat manusia, maka ilmu tidak hanya berfungsi menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu masalah, melainkan juga mengembangkan ilmu yang telah lalu dan yang baru, mengendalikan peristiwa yang akan terjadi yang akan membahayakan kehidupan, dan menebak  apa yang akan terjadi, untuk memudahkan umat manusia menghadapinya.[13]

            Kalau agama mempunyai nilai kebenaran mutlak maka ilmu yang sifat kebenarannya relatif adalah merupakan alat bagi manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran-kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan daya pikir dan dengan dibimbing oleh hati nurani, manusia dapat menemukan kebenaran-kebenaran dalam hidupnya secara baik, yaitu beramal saleh. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal saleh, yaitu amal yang dituntut oleh ajaran agama terhadap pemeluknya.

            Sejalan dengan itulah Islam memandang kegunaan dan peranan ilmu, sehingga tidak membuat garis pemisah antara agama dan ilmu. Agama adalah nilai-nilai panutan yang memberi pedoman pada tingkah laku manusia serta pandangan hidupnya. Ilmu adalah sesuatu hasil yang dicapai oleh manusia berkat bekal kemampuan-kemampuannya sebagai anugerah dari Tuhan Maha Pencipta. Ilmu tidak dibekalkan sebagai barang jadi, ilmu harus dicari dan untuk ikhtiar mencarinya, Tuhan membekali manusia dengan berbagai kemampuan yang memang sesuai kodrat dan keinginan untuk mengetahui apa saja.[14]

            Banyak ayat al-Qur'an dan hadith Nabi yang mengajak manusia untuk berpikir, akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua orang mampu dan mau menggunakan akalnnya tersebut untuk berpikir. Ajaran Islam menjadikan kita menyikapi hidup ini secara ikhtiari dan bukan fatalistik. Ajaran Islam cenderung mengajak pada pencarian hubungan sebab-akibat secara logis, serta mampu menyibak rahasia alam semesta melalui kajian mendalam, riset dan eksplorasi sehingga ditemukan sunnah Allah yang merupakan bukti atas kekuasaan Tuhan. Ajaran islam juga berupaya memadukan dua hal yang sampai saat ini masih diperlakukan secara dikotomik dalam pendidikan Islam, yakni relasi antara Tuhan alam, Tuhan manusia, iman-ilmu, jasmani-rohani, duniawi-ukhrowi, wahyu-akal, dimana implikasinya mengakibatkan terpisahnya pengetahuan agama -religious sciences- dengan pengetahuan umum -modern sciences-. Jadi, ajaran Islam menjalin hubungan yang integralistik.[15]

F. Penggunaan Ilmu Pengetahuan

            Setelah ilmu itu kita peroleh, maka ilmu itu akan kita gunakan untuk kepentingan umat manusia. Dengan ilmu itu, kita  dapat memisah-misahkan, membatasi, dan kemudian memilih sudut pandang yang akan kita gunakan dalam menghadapi kejadian, peristiwa, atau perbuatan. Sesudah itu kita dapat menempatkan masalah yang murni atau peristiwa empiris tertentu yang saling berhubungan, dan dapat diperlakukan dengan cara yang sama, sehingga dapat dipandang sebagai lapangan dari suatu ilmu yang berdiri sendiri.

            Sebagai Muslim, kita harus menggunakan ilmu, yang kita dapatkan dari agama Islam, sebagai bahan untuk membuat hipotesis, dan dalam penerapannya pun kita harus menggunakan moral Islam, guna kepentingan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Atau dengan kata lain, metode keilmuan ini harus diislamisasikan terlebih dahulu, sebab bagi orang non-Muslim Barat, metode demikian menghasilkan ilmu yang sifatnya netral; walaupun kebenarannya sudah dianggap obyektif, namun keobyektifan itu belum dapat diterima oleh Allah, karena kebenaran hanya ditunjukkan atau telah diberitahukan dalam al-Qur'an.

            Penerapan ilmu harus berdasarkan etika -moral- Islam, agar secara ilmiah tidak berat sebelah. Misalnya ilmu politik. Ilmu politik dan politik itu sendiri sering dianggap kotor, dan politik yang tidak kotor adalah politik yang didasarkan pada moralitas Islam. Di sini ternyata jelas, bahwa ilmu memerlukan basis iman, dan iman memerlukan ilmu, keduanya pada hakekatnya harus bermuara pada amal saleh. Ilmu ekonomi kontemporer, yakni ilmu ekonomi modern, hanya berguna bagi kehidupan-materi saja. Karena kita menginginkan kehidupan material dan imaterial yang sejahtera, maka ilmu ekonomi harus bersumber pada ajaran Islam, dan dalam penerapannya tidak boleh melupakan asas iman.[16]

G. Tantangan Umat Islam

            Kita sering mendengar ungkapan dari cendikiawan muslim maupun "ulama'" kita bahwa penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir ada diungkap di dalam al-Quran dengan bahasa simbolik atau dengan bahasa isyarat ilmiah. Seperti penemuan teori atom maupun teori kosmologi. Tetapi fakta berbicara bahwa yang menemukan itu bukan kaum muslimin. Orang-orang baratlah yang menemukannya. Kaum muslimin baru sadar bahwa prinsip ilmu itu ada dalam al-Qur'an, setelah ilmu itu diketemukan oleh orang non-Islam. Kenyataan ini menujukkan bahwa kaum muslimin senantiasa tertinggal dalam pekembangan iptek dan datang terlambat menafsirkan kebenaran ilmu itu dari al-Qur'an.[17]

            Upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbasis al-Qur'an merupakan tantangan yang cukup berat sekaligus menarik untuk ditekuni. Al-Qur'an telah memberikan prinsip utama untuk meriset alam semesta, memberikan motivasi kepada manusia untuk melakukan riset, memberikan kode etik teknologi dan bahkan memberikan peluang yang sangat besar untuk melakukan loncatan teknologi. Seharusnya pekerjaan yang demikian itu merupakan pekerjaan yang sangat menarik karena selain dijanjikan kesuksesan di dunia juga kesuksesan diakhirat dan surgalah sebagai balasannya.[18]

            Kaum muslimin dewasa ini hidup dalam masa yang sulit dan menantang. Berbicara secara demografis, mereka merupakan kekuatan besar yang harus diperhitungkan. Hampir semiliar jiwa atau seperlima dari seluruh manusia saat ini adalah muslim. Potensi ekonomi mereka besar. Negara-negara mereka yang memiliki bagian tanah tak dihuni luas, dianugerahi dengan sumber daya alam yang kaya. Namun demikian pengaruh mereka terhadap urusan ekonomi dan politik dunia serta kemajuan ilmiah dan teknologi masih marginal. Secara militer merka juga lemah. Kini mereka masih belum memainkan peran yang signifikan dalam menentukan sejarah dunia.[19]

            Realitas saat ini memang masih menunjukkan bahwa umat Islam diberbagai negara Islam masih jauh tertinggal dibidang iptek bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini umat Islam masih jauh tertinggal dengan negara-negara lain dalam hal ilmu dan teknologi modern. Negara-negara Islam jauh tertinggal oleh Eropa Utara, Amerika Utara, Ausrtralia dan Selandia Baru yang Protestan; Eropa Selatan dan Amerika Selatan yang Katholik; Eropa Timur yang Katholik Ortodox; Israel yang Yahudi; India yang Hindu; Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura yang Budhis Konfusianis; Jepang yang Budhis Taois; Thailand yang Budhis. Praktis disemua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islam adalah kelompok yang paling rendah dalam penguasaan sains dan teknologi. Padahal, dari sisi normativitas agama, baik al-Qur'an maupun hadith amat sarat dengan anjuran untuk berilmu pengetahuan.[20]

           







III. PENUTUP

            Islam tidak mengenal adanya jurang pemisah anatara ilmu pengetahuan dan agama. Agama Islam bukanlah agama yang anti dengan ilmu pengetahuan, bukan pula agama yang menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur'an dan al-Hadith yang merupakan dasar dari ajaran Islam penuh dengan informasi yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan. Sangat tidak berdasar sekali, kalau dikatakan Islam sebagai agama yang hanya mengajarkan ritual keagamaan belaka.

            Islam merupakan agama yang punya perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Dalam Islam, orang-orang yang berilmu pengetahuan mendapatkan tempat yang istimewa. Islam selalu menganjurkan dan memerintahkan kepada umatnya untuk selalu menggali dan menemukan ilmu sebagai bekal dalam kehidupannya dalam rangka sebagai pengemban amanah kholifah di atas bumi.

            Kenyataan bahwa Islam telah memerintahkan kepada pemeluknya untuk berilmu pengetahuan tidak selamanya ditanggapi serius oleh umat Islam. Kenyataan mengatakan bahwa   umat Islam jauh tertinggal dan terbelakang dari umat lain dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka telah lalai dan tidak memperhatikan ajaran agama yang mereka yakini kebenarannya. Sehingga ilmu pengetahuan yang oleh Islam diharapkan digali dan dicari lepas dari tangan mereka.

            Ketertinggalan dan keterbelakangan umat Islam dalam penguasaan ilmu memaksa umat Ialam untuk selalu tunduk dan patuh kepada umat lain yang sudah lebih dulu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi . Mereka akhirnya hanya bisa "menjual" apa yang mereka miliki untuk mendapatkan apa yang dihasilkan dari mereka yang berilmu, walaupun tidak mengerti benar hasil itu.

            Lalu pertanyaan akan muncul. Sampai kapan umat Islam berada dalam posisi seperti ini, Dalam masa keterbelakangan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau dikatakan kehidupan adalah ibarat roda yang berputar, lalu kapan roda itu akan berputar, kapan umat Islam akan berada di atas. Bagaimanapun juga roda akan berputar kalau ada usaha untuk menjalankannya. Umat Islam akan  bisa berada diatas, mendapatkan giliran diatas mana kala mereka punya niat dan ada usaha untuk mendapatkannya. Tuhan tidak akan melakukan perubahan terhadap suatu umat, namun manusialah yang harus berusaha untuk melakukan perubahan.
Wa Allah A'lam.






















DAFTAR PUSTAKA
Anshari, Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu, 1987
Assegaf, Abd. Rachman. Studi Islam Kontekstual, Yogyakarta: Gama Media, 2005
Bakar Osman. Tauhid dan Sains, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994
Fak. Teknik UMJ Jakarta. Al-Islam dan Iptek, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998
Saefuddin, AM. Desekularisasi Pemikiran, Bandung: Penerbit Mizan 1998
Sidik, Muhammad Ansorudin. Pengembangan Iptek Pondok Pesantren, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM. Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 2007




           


[1] Jujun S. Suriasumantri, "Mencari Alternatif Pengetahuan Baru", dalam Desekularisasi Pemikiran, ed. A.M. Saefuddin, et.al. (Bandung: Mizan, 1998), 14.
[2] Ibid., 15.
[3] Abd. Rachman Assegaf, Studi Islam Kontekstual (Yogyakarta: Gama Media, 2005), 194.
[4] Sri Soeprapto, "Metode Ilmiah" dalam Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2007), 127.
[5] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya, Bina Ilmu, 1987), 142.
[6] Al-Islam dan Iptek, Vol. 1 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), 17.
[7] Ibid., 19.
[8] Abd. Rachman, Studi Islam….., 198.
[9] Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat dan Agama….., 172.
[10] Osman Bakar, Tauhid dan Sains (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), 11.
[11] Noor MS. Bakry, "Sarana Berpikir Ilmiah", dalam Desekularisasi….., 97.
[12] AM. Saefuddin, "Filsafat Ilmu dan Metodologi Keilmuan", dalam Desekularisasi….., 33.
[13] Ibid., 36.
[14] Abd. Rachman, Studi Islam….., 197.
[15] Ibid., 202.
[16] AM. Saefuddin, Filsafat Ilmu…..,  44.
[17] Mohammad Ansorudin Sidik, Pengembangan Wawasan Iptek Pondok Pesantren, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 17.
[18] Al-Islam dan Iptek….. , 39.
[19] Osman. Tauhid dan Sains….., 239.
[20] Abd. Rachman, Studi Islam…..,205.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About



Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.