BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan menurut
Al-Qur’an jelas berbeda dengan pendidikan yang ada dalam masyarakat baik dalam
wilayah teoritis maupun praktis, akibatnya melahirkan istilah pendidikan yang
beragam dan berbeda pula. Keberhasilan menanamkan nilai-nilai rohaniah
(keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.) dalam diri peserta didik, terkait
dengan satu faktor dari sistem pendidikan, yaitu metode pendidikan yang
dipergunakan pendidik dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, sebab dengan
metode yang tepat, materi pelajaran akan dengan mudah dikuasai peserta didik. Dalam
pendidikan Islam, perlu dipergunakan metode pendidikan yang dapat melakukan
pendekatan menyeluruh terhadap manusia, meliputi dimensi jasmani dan rohani
(lahiriah dan batiniah), walaupun tidak ada satu jenis metode pendidikan yang
paling sesuai mencapai tujuan dengan semua keadaan.
Sebaik apapun tujuan pendidikan, jika tidak didukung oleh
metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan
baik. Sebuah metode akan mempengaruhi sampai tidaknya suatu informasi secara
lengkap atau tidak. Bahkan sering disebutkan cara atau metode kadang lebih
penting daripada materi itu sendiri. Oleh sebab itu pemilihan metode pendidikan
harus dilakukan secara cermat, disesuaikan dengan berbagai faktor terkait,
sehingga hasil pendidikan dapat memuaskan.
Rasul saw. sejak awal sudah mencontohkan dalam
mengimplementasikan metode pendidikan yang tepat terhadap para sahabatnya.
Strategi pembelajaran yang beliau lakukan sangat akurat dalam menyampaikan
ajaran Islam. Rasul saw. sangat memperhatikan situasi, kondisi dan karakter
seseorang, sehingga nilai-nilai Islami dapat ditransfer dengan baik. Rasulullah
saw. juga sangat memahami naluri dan kondisi setiap orang, sehingga beliau
mampu menjadikan mereka suka cita, baik meterial maupun spiritual, beliau
senantiasa mengajak orang untuk mendekati Allah swt syari’at-Nya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Metode Pendidikan
Satu dari berbagai komponen penting untuk mencapai tujuan
pendidikan adalah ketepatan menentukan metode. Sebab dengan metode yang tepat,
materi pendidikan dapat diterima dengan baik. Metode diibaratkan sebagai alat
yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Tanpa metode, suatu
materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam
kegiatan pembelajaran menuju tujuan pendidikan.
Secara etimologi kata metode berasal dari bahasa Yunani yaitu
meta yang berarti ”yang dilalui” dan hodos yang berarti ”jalan”, yakni jalan
yang harus dilalui. Jadi secara harfiah metode adalah cara yang tepat untuk
melakukan sesuatu.. Sedangkan dalam bahasa Inggris, disebut dengan method yang
mengandung makna metode dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab, metode
disebut dengan tharīqah yang berarti jalan atau cara. Demikian pula menurut
Yunus, tharīqah adalah perjalanan hidup, hal, mazhab dan metode. Secara
terminologi, para ahli memberikan definisi yang beragam tentang metode, di
antaranya pengertian yang dikemukakan Surakhmad bahwa metode adalah cara yang
di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut Yusuf
metodologi adalah ilmu yang mengkaji atau membahas tentang bermacam-macam
metode mengajar, keunggulannya, kelemahannya, kesesuaian dengan bahan pelajaran
dan bagaimana penggunaannya. Poerwakatja mengemukakan; metode pembelajaran
berarti jalan ke arah suatu tujuan yang mengatur secara praktis bahan
pelajaran, cara mengajarkannya dan cara mengelolanya.
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli mengenai
pengertian metode pendidikan, beberapa hal yang mesti ada dalam metode yaitu:
a. Melaksanakan aktivitas pembelajaran dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab;
b. Aktivitas tersebut memiliki cara yang baik dan tujuan tertentu;
c. Tujuan harus dicapai secara efektif.
Ada istilah lain dalam pendidikan yang mengandung makna
berdekatan dengan metode, yaitu pendekatan dan teknik/strategi, sebagai
berikut:
a. Pendekatan (al-madkhal/approach)
Pendekatan yaitu sekumpulan pemahaman mengenai bahan
pelajaran yang mengandung prinsip-prinsip filosofis. Jadi pendekatan merupakan
kebenaran umum yang bersifat mutlak. Misalkan asumsi yang berhubungan dengan
pembelajaran bahasa, bahwa aspek menyimak dan percakapan harus diajarkan
terlebih dahulu sebelum aspek membaca dan menulis atau sebaliknya, sehingga
dari asumsi tersebut pendidik dapat menentukan metode yang tepat.
b. Teknik/strategi
Teknik penyajian
bahan pelajaran adalah penyajian yang dikuasai pendidik dalam mengajar atau
menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik di dalam kelas, agar bahan
pelajaran dapat dipahami dan digunakan dengan baik. Teknik adalah
pelaksanaan pengajaran di dalam kelas, yaitu penggunaan metode yang didasarkan
atas pendekatan terhadap materi pelajaran. Jadi teknik harus sejalan dengan
metode dan pendekatan.
c. Metode
Metode adalah rencana menyeluruh yang berkenaan dengan
penyajian bahan/materi pelajaran secara sistematis dan metodologis serta
didasarkan atas suatu pendekatan, sehingga perbedaan pendekatan mengakibatkan
perbedaan penggunaan metode. Jika metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan
Islam, dapat membawa arti metode sebagai jalan pembinaan pengetahuan, sikap dan
tingkah laku sehingga terlihat dalam pribadi subjek dan obyek pendidikan, yaitu
pribadi Islami. Selain itu, metode dapat membawa arti sebagai cara untuk
memahami, menggali dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang yang sesuai dengan perkembangan
zaman. (Nata,2001:91).
Metode, merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai
tujuan pendidikan. Alat ini mempunyai dua fungsi ganda, yaitu polipragmatis dan
monopragmatis. Polipragmatis, bilamana metode mengandung kegunaan yang serba
ganda, misalnya suatu metode tertentu pada suatu situasi kondisi tertentu dapat
digunakan membangun dan memperbaiki. Kegunaannya dapat tergantung pada si
pemakai atau pada corak, bentuk dan kemampuan dari metode sebagai alat.
Sebaliknya monopragmatis, bilamana metode mengandung satu macam kegunaan untuk
satu macam tujuan.
Berdasarkan
rumusan-rumusan di atas, dapat dipahami bahwa metode pendidikan Islam adalah
berbagai cara yang digunakan oleh pendidik muslim, sebagai jalan pembinaan
pengetahuan, sikap dan tingkah laku, sehingga nilai-nilai Islami dapat terlihat
dalam pribadi peserta didik (subjek dan obyek pendidikan).
2.2 Hadis Tentang Metode Pendidikan dalam Lingkup Makro
a. Metode Keteladanan.
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ
قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ
عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ
حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِأَبِي الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا
سَجَدَ وَضَعَهَا وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا
Artinya: Hadis
dari Abdullah ibn Yusuf, katanya Malik memberitakan pada kami dari Amir ibn
Abdullah ibn Zabair dari ‘Amar ibn Sulmi az-Zarâqi dari Abi Qatadah al-Anshâri,
bahwa Rasulullah saw. salat sambil membawa Umâmah binti Zainab binti Rasulullah
saw. dari (pernikahannya) dengan Abu al-Ash ibn Rabi’ah ibn Abdu Syams. Bila
sujud, beliau menaruhnya dan bila berdiri beliau menggendongnya.
(al-Bukhari, 1987, I: 193)
Menurut al-Asqalâni, ketika itu orang-orang Arab sangat
membenci anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukan pada mereka tentang
kemuliaan kedudukan anak perempuan. Rasulullah saw. memberitahukannya dengan
tindakan, yaitu dengan menggendong Umamah (cucu Rasulullah saw.) di pundaknya
ketika salat. Makna yang dapat dipahami bahwa perilaku tersebut dilakukan
Rasulullah saw. Untuk menentang kebiasaan
orang Arab yang membenci anak perempuan. Rasulullah saw. menyelisihi kebiasaan
mereka, bahkan dalam salat sekalipun Hamd, mengatakan bahwa pendidik itu besar
di mata anak didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena
anak didik akan meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya, maka
wajiblah guru memberikan teladan yang baik.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah satu metode
pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya. Segala yang dicontohkan oleh
Rasulullah saw. dalam kehidupannya, merupakan cerminan kandungan Alquran secara
utuh, sebagaimana firman Allah swt. berikut:
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن
كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
Artinya: Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah. (QS. 33: 21).
Al-Baidhawi (Juz 5: 9), memberi makna uswatun hasanah pada
ayat di atas adalah perbuatan baik yang dapat dicontoh. Dengan demikian,
keteladanan menjadi penting dalam pendidikan, keteladanan akan menjadi metode
yang ampuh dalam membina perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah
keteladanan Rasulullah saw., yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai
teladan utama, sehingga diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang
dapat dijadikan panutan.
Dengan demikian, keteladanan menjadi penting dalam
pendidikan, keteladanan akan menjadi metode yang ampuh dalam membina
perkembangan anak didik. Keteladanan sempurna, adalah keteladanan Rasulullah
saw., yang dapat menjadi acuan bagi pendidik sebagai teladan utama, sehingga
diharapkan anak didik mempunyai figur pendidik yang dapat dijadikan panutan.
b. Metode lemah lembut/kasih sayang.
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ
السُّلَمِيِّ قَالَ بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ فَقُلْتُ يَرْحَمُكَ
اللَّهُ فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ فَقُلْتُ وَا ثُكْلَ أُمِّيَاهْ مَا
شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى
أَفْخَاذِهِمْ فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ فَلَمَّا
صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبِأَبِي هُوَ
وَأُمِّي مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا
مِنْهُ فَوَاللَّهِ مَا كَهَرَنِي وَلَا ضَرَبَنِي وَلَا شَتَمَنِي قَالَ إِنَّ
هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ إِنَّمَا
هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Artinya: Mu’awiyah ibn Hakam as-Silmiy,
Katanya: Ketika saya salat bersama Rasulullah saw., seorang dari jama’ah bersin
maka aku katakan yarhamukallâh. Orang-orang mencela saya dengan
pandangan mereka, saya berkata: Celaka, kenapa kalian memandangiku? Mereka
memukul paha dengan tangan mereka, ketika saya memandang mereka, mereka
menyuruh saya diam dan saya diam. Setelah Rasul saw. selesai salat (aku
bersumpah) demi Ayah dan Ibuku (sebagai tebusannya), saya tidak pernah melihat
guru sebelumnya dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau.
Demi Allah beliau tidak membentak, memukul dan mencela saya. Rasulullah saw.
(hanya) bersabda: Sesungguhnya salat ini tidak boleh di dalamnya sesuatu dari
pembicaraan manusia. Ia hanya tasbîh, takbîr dan membaca Alquran. (Muslim,
t.t, I: 381).
An-Nawâwi, dalam syarahnya mengatakan hadis ini menunjukkan
keagungan perangai Rasulullah saw., dengan memiliki sikap lemah lembut dan
mengasihi orang yang bodoh (belum mengetahui tata cara salat). Ini juga perintah
agar pendidik berperilaku sebagaimana Rasulullah saw. dalam mendidik..
Pentingnya metode lemah lembut dalam pendidikan, karena
materi pelajaran yang disampaikan pendidik dapat membentuk kepribadian peserta
didik. Dengan sikap lemah lembut yang ditampilkan pendidik, peserta didik akan
terdorong untuk akrab dengan pendidik dalam upaya pembentukan kepribadian.
c. Metode deduktif.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي
ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ
فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ
تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ
طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Artinya: Dari
Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw.bersabda: Tujuh orang yang akan dinaungi oleh
Allah di naungan-Nya yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; pemimpin
yang adil, pemuda yang tumbuh dalam keadaan taat kepada Allah; seorang yang
hatinya terikat dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah
(mereka bertemu dan berpisah karena Allah), seorang yang diajak oleh wanita
terpandang dan cantik namun ia berkata ’saya takut kepada Allah’, seorang yang
menyembunyikan sadekahnya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang
diberikan oleh tangan kanannya dan orang yang mengingat Allah dalam kesendirian
hingga air matanya mengalir. (al-Bukhari, t.t, I: 234).
Menurut Abi
Jamrah, metode deduktif (memberitahukan secara global) suatu materi pelajaran,
akan memunculkan keingintahuan pelajar tentang isi materi pelajaran, sehingga
lebih mengena di hati dan memberi manfaat yang lebih besar. (an-Andalusi,
1979, I: 97).
d. Metode perumpamaan
عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ الشَّاةِ
الْعَائِرَةِ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيرُ إِلَى هَذِهِ مَرَّةً وَإِلَى هَذِهِ
مَرَّةً .
Artinya; Dari
ibn Umar, Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang munafik dalam keraguan mereka
adalah seperti kambing yang kebingungan di tengah kambing-kambing yang lain. Ia
bolak balik ke sana ke sini. (Muslim, IV: 2146)
Menurut ath-Thîby’orang-orang
munafik, karena mengikut hawa nafsu untuk memenuhi syahwatnya, diumpamakan
seperti kambing jantan yang berada di antara dua kambing betina. Tidak tetap
pada satu betina, tetapi berbolak balik pada ke duanya. Hal tersebut
diumpamakan seperti orang munafik yang tidak konsisten dengan satu komitmen.
Perumpamaan dilakukan oleh Rasul saw. sebagai satu metode
pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada sahabat, sehingga materi
pelajaran dapat dicerna dengan baik. Matode ini dilakukan dengan cara
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak
dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah saw.
sebagai satu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehinga
benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau
menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi sesuatu yang sangat
jelas.
e. Metode kiasan
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ امْرَأَةً
سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِهَا مِنْ
الْمَحِيضِ فَأَمَرَهَا كَيْفَ تَغْتَسِلُ قَالَ خُذِي فِرْصَةً مِنْ مَسْكٍ
فَتَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهَّرُ قَالَ تَطَهَّرِي بِهَا قَالَتْ
كَيْفَ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ تَطَهَّرِي فَاجْتَبَذْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ
تَتَبَّعِي بِهَا أَثَرَ الدَّم.
Artinya: Dari
Aisyah, seorang wanita bertanya pada Nabi saw. tentang bersuci dari haid.
Aisyah menyebutkan bahwa Rasul saw. mengajarkannya bagaimana cara mandi.
Kemudian kamu mengambil secarik kain dan memberinya minyak wangi dan bersuci
dengannya. Ia bertanya, bagaimana aku bersuci dengannya? Sabda Rasul saw. Kamu
bersuci dengannya. Subhânallah, beliau menutup wajahnya. Aisyah mengatakan
telusurilah bekas darah (haid) dengan kain itu. (al-Bukhari, I: 119)
Ibn Hajar, memberi komentar terhadap hadis ini dengan
mengatakan ini adalah dalil tentang disunnahkannya menggunkan kiasan/sindiran
pada hal-hal yang berkenaan dengan aurat dan bimbingan untuk masalah-masalah
yang dianggap aib. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, mengatakan cara mempergunakan
kiasan dalam pembelajaran, yaitu:
1) Rayuan dalam nasehat, seperti memuji kebaikan anak didik, dengan
tujuan agar lebih meningkatkan kualitas akhlaknya, dengan mengabaikan
membicarakan keburukannya.
2) Menyebutkan tokoh-tokoh agung umat Islam masa lalu, sehingga
membangkitkan semangat mereka untuk mengikuti jejak mereka.
3) Membangkitkan semangat dan kehormatan anak didik.
4) Sengaja menyampaikan nasehat di tengah anak didik.
5) Menyampaikan nasehat secara tidak langsung/ melalui kiasan.
6) Memuji di hadapan orang yang berbuat kesalahan, orang yang
mengatakan sesuatu yang berbeda dengan perbuatannya. Merupakan cara mendorong
seseorang untuk berbuat kebajikan dan meninggalkan keburukan.
f. Metode memberi kemudahan
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلا تُعَسِّرُوا
وَبَشِّرُوا وَلا تُنَفِّرُوا وكان يحب التخفيف والتسري على الناس.
Artinya: Dari
Anas ibn Malik dari Nabi saw. Rasulullah saw. bersabda: Mudahkanlah dan jangan
mempersulit. Rasulullah saw. suka memberikan keringanan kepada manusia.(al-Bukhari,
I: 38)
Hadits di
atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong
şiqah dan şiqah hâfiz, Anas adalah sahabat Rasul saw. Ibnu Hajar al-Asqalâni
mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan pentingnya memberikan kemudahan
bagi pelajar yang memiliki kesungguhan dalam belajar, (al-Asqalani, I: 62)
dalam pengertian mengajarkan ilmu pengetahuan harus
mempertimbangkan kemampuan si pelajar.
Sebagai pendidik, Rasulullah saw. tidak pernah mempersulit,
dengan harapan para sahabat memiliki motivasi yang kuat untuk tetap
meningkatkan aktivitas belajar.
g. Metode perbandingan
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا
يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي
الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
Artinya: Rasul saw. bersabda: Demi Allah
tidaklah dunia dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti seorang yang menaruh
jarinya ini, beliau menunjuk kepada telunjuknya di laut, kemudian perhatikan
apa yang tersisa di telunjuknya. (Muslim, IV: 3193)
Imam an-Nawâwi memberi komentar pada hadis ini, dengan
ungkapan” akhirat dibandingkan dengan dunia, dalam hal waktunya dunia itu
singkat dan kenikmatannya yang sirna, sedangkan akhirat serba abadi,
sebagaimana perbandingan antara air yang lengket pada jari dibanding dengan
sisanya di lautan. (an-Nawawi, XVII: 192-193)
Makna hadis di atas yaitu pentingnya metode perbandingan
dalam pendidikan, sehingga potensi jasmaniah dan rohaniah si pembelajar dapat
memahami hal-hal yang memiliki perbedaan antara suatu permasalahan dengan
lainnya.
2.3 Hadis Tentang Metode Pendidikan dalam Lingkup Mikro
a. Metode tanya jawab
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي حَدِيثِ بَكْرٍ أَنَّهُ
سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَرَأَيْتُمْ
لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ
هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ
قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ
الْخَطَايَا.
Artinya: Dari
Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw. bersabda; Bagaimana pendapat kalian seandainya
ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian. Ia mandi di sana lima
kali sehari. Bagaimana pendapat kalian? Apakah masih akan tersisa kotorannya?
Mereka menjawab, tidak akan tersisa kotorannya sedikitpun. Beliau bersabda;
Begitulah perumpamaan salat lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa.
(Muslim, I: 462-463)
Metode bertanya ini untuk mengajak si pendengar agar fokus dengan
pembahasan. Misalnya kata;”bagaimana pendapat kalian?” adalah pertanyaan yang
diajukan untuk meminta informasi. Maksudnya beritahukan padaku, apakah masih
tersisa?. Menurut at-Thiiby, sebagaimana dikutip al-Asqalâni, menjelaskan lafaz
”لو” dalam hadis tersebut memberi makna
perumpamaan. (al-Asqalani, I: 462).
Metode tanya jawab, apakah pembicaraan antara dua orang atau
lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai tujuan dan topik tertentu. Metode
dialog berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain, serta
mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya.(an-Nahlawi, 1996: 205). Uraian
tersebut memberi makna bahwa dialog dilakukan oleh seseorang dengan orang lain,
baik mendengar langsung atau melalui bacaan. Nahlawi, mengatakan pembaca dialog
akan mendapat keuntungan berdasarkan karakteristik dialog, yaitu topik dialog
disajikan dengan pola dinamis sehingga materi tidak membosankan, pembaca
tertuntun untuk mengikuti dialog hingga selesai. Melalui dialog, perasaan dan
emosi akan terbangkitkan, topik pembicaraan disajikan bersifat realistik dan
manusiawi. Dalam Alquran banyak memberi informasi tentang dialog, di antara
bentuk-bentuk dialog tersebut adalah dialog khitâbi, ta’abbudi, deskritif,
naratif, argumentatif serta dialog nabawiyah. Metode tanya jawab, sering
dilakukan oleh Rasul saw. dalam mendidik akhlak para sahabat. Dialog akan
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya tentang sesuatu yang
tidak mereka pahami. Pada dasarnya metode tanya jawab adalah tindak lanjut dari
penyajian ceramah yang disampaikan pendidik. Dalam hal penggunaan metode ini,
Rasulullah saw. menanyakan kepada para sahabat tentang penguasaan terhadap
suatu masalah.
b. Metode Pengulangan.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ
لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ.
Artinya: Hadis
Musaddad ibn Musarhad hadis Yahya dari Bahzâ ibn Hâkim, katanya hadis dari
ayahnya katanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Celakalah bagi orang yang
berbicara dan berdusta agar orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya, kecelakaan
baginya. (As-Sijistani, t.t, II: 716).
Mengulang tiga
kali perkataan ”celakalah”, ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus
dilaksanakan dengan baik dan benar, sehingga materi pelajaran dapat dipahami
dan tidak tergolong pada orang yang merugi.
Satu proses yang penting dalam pembelajaran adalah
pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana
seseorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan
motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu
ingatan yang penting. Latihan mental, mengaktifkan orang yang belajar untuk
membayangkan kejadian-kejadian yang sudah tidak ada untuk berikutnya
bayangan-bayangan ini membimbing latihan motorik.
c. Metode demonstrasi
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى
قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي
قِلَابَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ
يَوْمًا وَلَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَحِيمًا رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ
اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ
ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ
وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا
رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.
Artinya: Hadis
dari Muhammad ibn Muşanna, katanya hadis dari Abdul Wahhâb katanya Ayyũb dari
Abi Qilâbah katanya hadis dari Mâlik. Kami mendatangi Rasulullah saw. dan kami
pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama (dua puluh malam) 20
malam. Rasulullah saw adalah seorang yang penyayang dan memiliki sifat lembut.
Ketika beliau menduga kami ingin pulang dan rindu pada keluarga, beliau
menanyakan tentang orang-orang yang kami tinggalkan dan kami memberitahukannya.
Beliau bersabda; kembalilah bersama keluargamu dan tinggallah bersama mereka,
ajarilah mereka dan suruhlah mereka. Beliau menyebutkan hal-hal yang saya hapal
dan yang saya tidak hapal. Dan salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat.
(al-Bukhari, I: 226)
Hadis ini sangat jelas menunjukkan tata cara salat Rasulullah
saw. kepada sahabat, sehingga para sahabat dipesankan oleh Rasulullah saw. Agar salat seperti yang dicontohkan olehnya.
Menurut teori
belajar sosial, hal yang amat penting dalam pembelajaran ialah kemampuan
individu untuk mengambil intisari informasi dari tingkah laku orang lain,
memutuskan tingkah laku mana yang akan diambil untuk dilaksanakan. Dalam
pandangan paham belajar sosial, sebagaimana dikemukakan Grendler (1991: 369),
orang tidak dominan didorong oleh tenaga dari dalam dan tidak oleh
stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan. Tetapi sebagai interaksi timbal
balik yang terus-menerus yang terjadi antara faktor-faktor penentu pribadi dan
lingkungannya.
Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan
memperlihatkan suatu gerakan atau proses kerja sesuatu. Pekerjaannya dapat saja
dilakukan oleh pendidik atau orang lain yang diminta mempraktekkan sesuatu
pekerjaan. Metode demonstrasi dilakukan bertujuan agar pesan yang disampaikan
dapat dikerjakan dengan baik dan benar. Untuk
mencapai tujuan pembelajaran, dibutuhkan beberapa kemampuan yang harus dikuasai
anak didik dalam indikator pencapaian, yaitu :
1) Kemampuan
2) Kemampuan membaca bacaan salat
3) Menganalisis tingkah laku yang dimodelkan (motorik atau keterampilan)
4) Menunjukkan model
5) Memberikan kesempatan pada siswa untuk mempraktekkan dengan
umpan balik yang dapat dilihat
6) Memberikan reinforcement dan motivasi
d. Metode eksperimen
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ
بِهِمَا وَجْهَهُ.
Artinya: Rasulullah
saw. bersabda: ”Sebenarnya anda cukup begini”. Rasul memukulkan kedua telapak
tangannya ke tanah dan meniupnya kemudian mengusapkan keduanya pada wajah.(al-Bukhari,
I: 129)
Menurut al-Asqalani, hadis ini mengajarkan sahabat tentang
tata cara tayammum dengan perbuatan. (Al-Asqalani, I: 444) Sahabat Rasulullah
saw. melakukan upaya pensucian diri dengan berguling di tanah ketika mereka
tidak menemukan air untuk mandi janabat. Pada akhirnya Rasulullah saw.
memperbaiki ekperimen mereka dengan mencontohkan tata cara bersuci menggunakan
debu.
e. Metode pemecahan masalah
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا
يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ
فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي
نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ.
Artinya: Dari
Umar, sabda Rasulullah saw. Sesungguhnya di antara pepohonan itu ada sebuah
pohon yang tidak akan gugur daunnya dan pohon dapat diumpamakan sebagai seorang
muslim, karena keseluruhan dari pohon itu dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Cobalah kalian beritahukan kepadaku, pohon apakah itu? Orang-orang mengatakan
pohon Bawâdi. Abdullah berkata; Dalam hati saya ia adalah pohon kurma, tapi
saya malu (mengungkapkannya). Para sahabat berkata; beritahukan kami wahai
Rasulullah!. Sabda Rasul saw; itulah pohon kurma.(al-Bukhari, I: 34).
Al-Asqalâni (I:147), menyebutkan dengan metode perumpamaan
tersebut dapat menambah pemahaman, menggambarkannya agar melekat dalam ingatan
serta mengasah pemikiran untuk memandang permasalahan yang terjadi.
(al-Asqalani, I: 147). Metode tanya jawab berusaha menghubungkan pemikiran
seseorang dengan orang lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dan pendengarnya,
melalui dialog, perasaan dan emosi pembaca akan terbangkitkan, jika topik
pembicaraan disajikan bersifat realistik dan manusiawi. (an-Nahlawi, t.t.: 205)
Uraian tersebut memberi makna bahwa dialog dilakukan oleh seseorang dengan
orang lain, baik mendengar langsung atau melalui bacaan.
f. Metode diskusi
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ
قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ
الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ
وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا
وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ
أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ.
Artinya: Dari
Abu Hurairah ra. bahwasnya Rasulullah saw. bersabda: Tahukah kalian siapa orang
yang muflis (bangkrut)?, jawab mereka; orang yang tidak memiliki dirham dan
harta. Rasul bersabda; Sesungguhnya orang yang muflis dari ummatku adalah orang
yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) salat, puasa dan zakat,. Dia
datang tapi telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta orang ini, menumpahkan
darah (membunuh) ini dan memukul orang ini. Maka orang itu diberi pahala
miliknya. Jika kebaikannya telah habis sebelum ia bisa menebus kesalahannya,
maka dosa-dosa mereka diambil dan dicampakkan kepadanya, kemudian ia
dicampakkan ke neraka.(Muslim, t.t, IV: 1997)
Menurut an-Nawâwi,
Penjelasan hadis di atas yaitu Rasulullah saw. memulai pembelajaran dengan
bertanya dan jawaban sahabat ternyata salah, maka Rasulullah saw. menjelaskan
bahwa bangkrut dimaksud bukanlah menurut bahasa. Tetapi bangkrut yang dimaksudkan
adalah peristiwa di akhirat tentang pertukaran amal kebaikan dengan kesalahan.
(an-Nawawi, t.t, XVI: 136).
g. Metode pujian/memberi kegembiraan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ
ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ
أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا
مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ.
Artinya: Dari
Abu Hurairah, ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah yang paling bahagia mendapat
syafa’atmu pada hari kiamat?, Rasulullah saw bersabda: Saya sudah menyangka,
wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada yang bertanya tentang hadis ini seorangpun
yang mendahului mu, karena saya melihat semangatmu untuk hadis. Orang yang
paling bahagia dengan syafaatku ada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan
”Lâilaha illa Allah” dengan ikhlas dari hatinya atau dari dirinya.(al-Bukhari,
t.t, I: 49)
Hadits di
atas tergolong syarîf marfu’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong
şiqah dan şiqah şubut. sedangkan Abu Hurairah adalah sahabat Rasul saw. Ibn Abi
Jamrah mengatakan hadis ini menjadi dalil bahwa sunnah hukumnya memberikan
kegembiraan kepada anak didik sebelum pembelajaran dimulai. Sebagaimana
Rasulullah saw. mendahulukan sabdanya; ’saya telah menyangka’, selain itu
‘karena saya telah melihat semangatmu untuk hadis’. Oleh sebab itu perlu
memberikan suasana kegembiraan dalam pembelajaran. (Andalusi, t.t :133-134)
h. Metode pemberian hukuman
عَنْ أَبِي سَهْلَةَ السَّائِبِ بْنِ
خَلَّادٍ قَالَ أَحْمَدُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا أَمَّ قَوْمًا فَبَصَقَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْظُرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ فَرَغَ لَا يُصَلِّي لَكُمْ….
Artinya: Dari
Abi Sahlah as-Sâ’ib ibn Khallâd, kata Ahmad dari kalangan sahabat Nabi saw.
bahwa ada seorang yang menjadi imam salat bagi sekelompok orang, kemudian dia
meludah ke arah kiblat dan Rasulullah saw. melihat, setelah selesai salat
Rasulullah saw. bersabda ”jangan lagi dia menjadi imam salat bagi kalian”…
(Sijistani, t.t, I: 183).
Hadits di atas
tergolong syarîf marfū’ dengan kualitas perawi yang sebagian tergolong şiqah
hâfiz, şiqah dan şiqah azaly. memberikan hukuman (marah) karena orang tersebut
tidak layak menjadi imam. Seakan-akan larangan tersebut disampaikan
beliau tampa kehadiran imam yang meludah ke arah kiblat ketika salat. Dengan demikian Rasulullah saw. Memberi hukuman mental kepada seseorang yang
berbuat tidak santun dalam beribadah dan dalam
lingkungan sosial. Sanksi dalam
pendidikan mempunyai arti penting, pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk
pelajar kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati. Sanksi tersebut
dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut, dengan teguran, kemudian
diasingkan dan terakhir dipukul dalam arti tidak untuk menyakiti tetapi untuk
mendidik. Kemudian dalam menerapkan sanksi fisik hendaknya dihindari kalau
tidak memungkinkan, hindari memukul wajah, memukul sekedarnya saja dengan
tujuan mendidik, bukan balas dendam. Alternatif lain yang mungkin dapat
dilakukan adalah;
1) Memberi nasehat dan petunjuk.
2) Ekspresi cemberut.
3) Pembentakan.
4) Tidak menghiraukan murid.
5) Pencelaan disesuaikan dengan tempat dan waktu yang sesuai.
6) Jongkok.
7) Memberi pekerjaan rumah/tugas.
8) Menggantungkan cambuk sebagai simbol pertakut.
9) Alternatif terakhir adalah pukulan ringan. (al-Syalhub, Terj.
Abu Haekal, 2005: 59-60) Hal yang
menjadi prinsip dalam memberikan sanksi adalah tahapan dari yang paling ringan,
sebab tujuannya adalah pengembangan potensi baik yang ada dalam diri anak
didik.
BAB III
KESIMPULAN
Metode pendidikan adalah cara yang dipergunakan pendidik
dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada peserta didik, sehingga dengan metode
yang tepat dan sesuai, bahan pelajaran dapat dikuasai dengan baik oleh peserta
didik. Beberapa metode pendidikan yang dikemukakan dalam makalah ini (masih
banyak yang belum), terdiri dari metode keteladanan, metode lemah lembut/kasih
sayang, metode deduktif, metode perumpamaan, metode kiasan, metode memberi
kemudahan, metode perbandingan, metode tanya jawab, metode pengulangan, metode
demonstrasi, metode eksperimen, metode pemecahan masalah, metode diskusi,
metode pujian/memberi kegembiraan, metode pemberian hukuman dapat dilaksanakan
pendidik dalam penanaman nilai-nilai pada ranah afektif dan pengembangan pola
pikir pada ranah kognitif serta latihan berperilaku terpuji atau psikomotorik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi Abu, Strategi Belajar Mengajar,
Bandung : CV. Pustaka Setia, 1997
Arief Rahman, Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam,Jakarta: CiputatPers,2002
Arifin, M. Ilmu Pendidikan
Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996..
Yusuf, Tayar Anwar, Syaiful. Metodologi
Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Sumber:http://alatsar.wordpress.com/2009/03/19/hadis-hadis-tentang-metode-pendidikan/
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments